Kiai Faizi: Lawan Oligarki dengan Penguatan Militansi Jaringan

Kiai Faizi: Lawan Oligarki dengan Penguatan Militansi Jaringan
Kiai Faizi saat mengisi sarasehan budaya di Perhimpunan Pers mahasiswa Indonesia (PPMI). (Foto: NU Online/Hairul Anam)
Kiai Faizi saat mengisi sarasehan budaya di Perhimpunan Pers mahasiswa Indonesia (PPMI). (Foto: NU Online/Hairul Anam)

Pamekasan, NU Online

Membangun jaringan teramat penting. Bahkan dengan penguatan militansi jaringan, masyarakat mampu melawan oligarki. Untuk itu, insan pers diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menghadang oligarki.

 

Demikian ditegaskan Pengasuh Pesantren Annuqayah Daerah Al-Furqaan, Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Kiai M Faizi, saat mengisi Sarasehan Budaya dalam Kongres XV Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Vihara Avalokitesvara Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Kamis (13/2).

 

Menurutnya, pers merupakan kekuatan yang cukup dahsyat, namun masih perlu meningkatkan jaringan yang lebih kokoh lagi antar sesama insan pers.

 

"Insan pers mahasiswa harus menguatkan militansi jaringan. Karena hanya dengan penguatan militansi jaringan ini, kita akan bisa melawan oligarki, kita harus pikirkan konsep dan gerakan pers kita," tegasnya.

 

Kiai Faizi juga menyetujui gerakan media mainstream di online. Paling tidak, para jurnalis independen bisa mengcounter wacana yang ‘menyimpang’ di tengah-tengah masyarakat.

 

Penulis buku Menghancurkan Bumi dari Meja Makan itu, juga menyinggung persoalan lingkungan hidup. Menurutnya kini masalah lingkungan hidup sudah terbilang akut dan mesti disikapi secara serius.

 

"Kami mengajak insan pers mahasiswa untuk peka terhadap isu lingkungan. Mengungkap isu-isu yang belum diungkap kepada masyarakat umum, pola pikir yang dibangun oleh kolonialisme harus disikapi secara massif," sarannya.

 

Di samping menekankan kepada jaringan dan persoalan lingkungan hidup, Kiai Faizi juga mengharapkan insan pers mahasiswa tidak menjadi kawan dari oligarki.

 

Diakuinya, pemerintah saja tidak bisa memberantas oligarki, apalagi pers mahasiswa. Independensi pers mahasiswa dan penguatan jaringan lewat PPMI menjadi kemestian tak terbantahkan.

 

"Tapi sekarang kita direpotkan pada sulitnya membedakan antara lawan dan kawan. Kendati demikian, saya kira pers mahasiswa ini menjadi paling ideal independensinya," tukas Kiai Faizi.

 

Selaim Kiai Faizi, PPMI juga menghadirkan para jurnalis senior Indonesia. Salah satunya adalah Andreas Harsono, penulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme. Turut hadir pula beberapa jurnalis muda gemblengan Andreas Harsono dalam Yayasan Pantau yang menitiktekankan pada jurnalisme sastrawi.

 

Sarasehan budaya yang mengangkat tema Memperkokoh Milintansi Pers Mahasiswa di Bawah Tekanan Oligarki tersebut digelar sebagai salah satu rangkaian acara kongres XV PPMI.

 

Selain menghadirkan Kiai M. Faizi, panitia juga mendatangkan budayawan dan penyair dari Sumenep Madura.

 

Kontributor: Hairul Anam

Editor: Aryudi AR

BNI Mobile