Belajarlah pada Guru dengan Silsilah Ilmu sampai Rasulullah

Belajarlah pada Guru dengan Silsilah Ilmu sampai Rasulullah
Wakil Katib Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung, Ahad (16/2) saat memberi materi kajian hadits pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula Gedung NU Pringsewu. (Foto:NU Online/Faizin)
Wakil Katib Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung, Ahad (16/2) saat memberi materi kajian hadits pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula Gedung NU Pringsewu. (Foto:NU Online/Faizin)
Pringsewu, NU Online
Tarekat yang paling mudah dan menuju ke jalan Allah adalah belajar atau mengajar. Dengan belajarlah seseorang akan mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui sebelumnya. Dengan belajar seseorang akan mampu melihat segala hal dengan pandangan ilmu, bukan dengan berdasar akal pikirannya semata terlebih dengan emosi dan keegoisannya.
 
"Belajar tak kan terlepas dari sosok seorang guru. Melaluinyalah kita akan memiliki ilmu berkah yang silsilahnya menyambung sampai dengan Rasulullah Saw," kata Wakil Katib Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung, Ahad (16/2) saat memberi materi kajian hadits pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula Gedung NU Pringsewu.
 
Silsilah keilmuan menjadi sangat penting, apalagi saat ini fenomena belajar tanpa guru sudah mulai menjangkit seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya media sosial. Melalui kemudahan yang diberikan, seseorang bisa mengakses berbagai kajian di media sosial seperti youtube, facebook, twitter, dan sebagainya.
 
Namun yang kurang diperhatikan masyarakat saat ini adalah kehati-hatian dalam memilih informasi atau sumber hukum agama yang disampaikan oleh narasumber. Perlu disadari saat ini siapa saja bisa berbicara di media sosial baik itu orang yang berilmu maupun yang tidak.
 
"Sehingga kemampuan dan silsilah keilmuan seseorang yang berbicara di media sosial harus jelas dan menjadi pertimbangan utama dalam menerimanya," katanya.
 
Ia mengingatkan bahwa jangan sampai umat Islam "kagetan" dan mudah terpengaruh pada fenomena ustadz baru yang tiba-tiba viral di media sosial. Harus ditelisik lebih dalam latar belakang keilmuannya dan paham (misi) yang dibawanya.
 
"Sebenarnya yang paling harus kita perhatikan adalah dawuh-dawuh guru, kiai, atau ustadz yang ada di sekitar kita yang mengajari ilmu dasar seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dan berbagai ilmu dasar agama lainnya. Jasa mereka sangat besar dan kita berhutang pada mereka," ingatnya.
 
Jangan sampai kita suul adab (tak berakhlak) karena percaya dengan ustadz yang ada di youtube sehingga mengatakan apa yang diajarkan selama ini oleh guru kita salah. Contohnya seperti fenomena yang membidah-bidahkan amaliah ahlussunah wal jamaah dan menyatakan amaliah ini tak ada tuntunan dari Rasul.
 
"Tahlilan, Yasinan, maulidan ini sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya. Di dalamnya dilakukan berbagai macam kegiatan ibadah seperti membaca Qur'an, zikir, shalawat, doa. Aktivitas ibadah ini merupakan ramuan dakwah para ulama Nusantara yang tak perlu diragukan lagi keilmuannya dan sudah nyata hasilnya," tegasnya.
 
Sementara Bupati Pringsewu KH Sujadi yang hadir pada Jihad Pagi tersebut mengingatkan seluruh jamaah untuk mengingat dan memperhatikan materi kajian ataupun pesan guru saat mengaji, baik di Jihad Pagi maupun di majelis lainnya.
 
Hal ini penting karena selain akan memberikan keberkahan dan menjadi perbendaharaan ilmu, setiap tindakan dari anggota tubuh selama mengaji akan menjadi saksi di hari akhir.
 
Ia pun mengutip QS. Yasin: 65 yang artinya: "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile