STIT Sunan Giri Bima, Kampus Rintisan Tokoh NU NTB

STIT Sunan Giri Bima, Kampus Rintisan Tokoh NU NTB
Gedung STIT Sunan Giri Bima, Nusa Tenggara Barat. (Foto: laduni.id)
Gedung STIT Sunan Giri Bima, Nusa Tenggara Barat. (Foto: laduni.id)
Mataram, NU online
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima adalah salah satu Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta yang sedang berkembang di Kota Bima saat ini. Perguruan Tinggi ini didirikan pada 1971. Hingga kini sudah berhasil mencetak alumni-alumni yang sudah tersebar di setiap instansi dan mengabdi sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing.

Sebagai perguruan tinggi yang mencetak para cendekiawan yang beriman dan bertaqwa, STIT Sunan Giri Bima telah ikut berperan dalam memacu pembangunan sesuai dengan bidangnya. Jika ditelusuri sejarah berdirinya STIT Sunan Giri Bima, bahwa kampus ini pada mulanya dikenal dengan Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Bima sebagai Cabang Universitas Sunan Giri Malang.

STIT Sunan Giri Kota Bima ternyata dirintis oleh tokoh-tokoh NU. Termasuk salah seorang perintisnya adalah H Israil, mantan Ketua PW NU NTB yang saat itu dosen STAIN Mataram (kini menjadi UIN Mataram).

Kisah tersebut disampaikan Wakil Ketua PCNU Bima Andi A Farid saat menerima kunjungan Anggota F-PKB DPRD NTB Komisi V bidang pendidikan, Akhdiansyah, dalam masa reses I tahun 2020 (12-19/02). 

"Kami senang dikunjungi salah seorang putra terbaik dari Dompu ini. Semoga pertemuan ini memberi semangat kepada kita di sini," kata Andi, sapaan akrabnya.

Pertemuan yang dikemas dialog dan diskusi itu, Akhdiansyah yang akrab disapa Guru Toi menjelaskan bahwa dirinya merupakan bagian dari kader dan keluarga besar NU. Sejak remaja ia aktif di beberapa banom NU, di antaranya IPNU, PMII dan GP. Ansor NTB. 

"Saya bukan orang luar. Saya besar dan tumbuh dari pesantren dan guru-guru dari orang NU. Makanya saya siap menerima perintah dari PCNU," kata alumnus Pessantren Al-Islahuddiny Kediri Lombok Barat ini.
 
Potensi NU di Bima
Dalam pertemuan itu, ia menguraikan bahwa peran, potensi, dan kekuatan NU yang sangat besar baik yang ada di Bima, luar daerah, dan luar negeri. Peran NU kini mulai diakui dari tingkat lokal, nasional, dan internasional dalam menjaga tradisi, kebangsaan, pikiran, dan dakwahnya yang moderat.

"Saya siap berdiri bersama keluarga besar NU Bima. Saya berharap dari NU Bima bisa melahirkan ulama-ulama yg bisa menjawab berbagai persoalan keumatan kontemporer" tambah mantan Ketua PC PMII Cabang Mataram ini.

Apa yang dilakukan NU selama ini bagian dari politik kebangsaan dan membela agama bukan semata untuk kekuasaan politik pragmatis. NU juga elemen perubahan yang dipelopori oleh para ulama, kyai dan tuan guru.

"Bagi saya, aktif di NU itu juga bagian dari upaya untuk investasi dunia dan investasi pahala di akhirat," tambah Sekretaris DPW PKB NTB ini.

Untuk itu, menurut dia, NU harus segera melakukan konsolidasi kekuatan kultural dan struktural menghadapi berbagai tantangan dan perubahan zaman. Salah satu caranya memetakan kekuatan dan potensi yang dimilikinya. 

Di tempat yang sama, Ketua STIT Bima, Syukri Abu Bakar mengapresiasi pokok-pokok pikiran yang disampaikan Guru Toi terkait kondisi NU, khususnya perkembangan NU  di luar negeri. "Semua itu memberikan inspirasi dan semangat untuk kemajuan NU di Bima," tutur Syukri.

Di akhir pertemuan, Akhdiansyah membagikan kopiah berlogo NU dan kalender PWNU NTB kepada pengurus PCNU, lembaga, dan banom yang hadir. Para pengurus nampak sangat senang menerima oleh-oleh dari pria yang juga pendiri Lembaga Studi Kemanusiaan (LeNSA) NTB ini.
 
Kontributor: Hadi
Editor: Musthofa Asrori
 
BNI Mobile