Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Cara IPNU-IPPNU di Jombang 'Nguri-uri' Budaya Leluhur

Cara IPNU-IPPNU di Jombang 'Nguri-uri' Budaya Leluhur
Ngaji Budaya diselenggarakan oleh IPNU-IPPNU di Mojoagung, Jombang, Jawa Timur. (Foto:NU Online/Syarif Abdurrahman)
Ngaji Budaya diselenggarakan oleh IPNU-IPPNU di Mojoagung, Jombang, Jawa Timur. (Foto:NU Online/Syarif Abdurrahman)
Jombang, NU Online
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang dan Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah Mojoagung mengadakan acara Ngaji Budaya. 
 
Acara berpusat di padepokan peteng ndedet Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah di bawah asuhan KH M Adam Sinni.
 
Acara ini bertujuan menikmati dan melestarikan budaya nenek moyang. Panitia mengundang Ki Ompong Soedharsono dari Temanggung, Jawa Tengah.
 
“Tujuannya pengenalan dan melestarikan budaya terhadap santri milenial. Respons peserta sangat baik dan antusias sekali mengingat belum ada organisasi yang membuat kegiatan dakwah menggunakan wayang di Mojoagung,” kata Panitia Pelaksana Ngaji Budaya, Risalatul Aminin, Ahad (16/2).
 
Lanjutnya, dalangnya sendiri yaitu Ki Ompong Soedharsono terbilang dalang unik. Ia lagi menjalankan misi keliling ke berbagai daerah di Indonesia. Hebatnya, Ki Ompong membawa sendiri properti pertunjukan wayang.
 
Sebenarnya Ompong lahir di Blitar tahun 1982 sebelum pindah ke Jawa Tengah. Lahir dari keluarga seniman sehingga ia pernah studi sebentar di jurusan Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2004. Sejak tiga tahun terakhir, ia berjalan dari satu desa ke desa yang lain untuk mengisi acara wayang tanpa bayaran.
 
“Intinya kita ingin nguri-nguri budaya, satu visi dengan Ki Ompong yang memang lebih fokus pada budaya sejak dulu,” tambahnya.
 
Seni wayang yang diperagakan ini perpaduan alat musik tradisional dan modern yang diiringi suara bunyi musik yang rileks, santai, bahagia, dinamis, dan bergenre optimis. Di sela-sela musik itu diselingi nasihat tentang kehidupan dan pesan langit.
 
Cara ini dipakai karena pesertanya adalah anak muda yang umumnya tidak terlalu suka formalitas. Generasi Milenial mudah bosan bila acara menoton.
 
“Di zaman serba internet ini, budaya kearifan lokal warisan turun-temurun perlu terus dipublikasikan agar pemuda saat ini tidak hilang identitasnya. Di era 4.0 ini, semua serba canggih,” tambah alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum ini.
 
Pria yang biasa disapa Aris ini mengatakan selama ini generasi muda Indonesia khususnya Jombang lebih banyak belajar budaya Korea, Jepang dan Amerika Serikat lewat film dan musik. Ini terlihat dari baju yang dipakai, ucapan dan pola pikir.
 
Jika ini tidak diimbangi dengan budaya positif lokal maka bisa jadi sangkan parani dumadi. Dalam kata lain yaitu orang Jawa tapi lupa dengan jati dirinya sendiri. Dikhawatirkan nanti para pemuda tersebut menjadi tamu di negara sendiri.
 
“Orang Jawa itu budaya tidak suka menang sendiri, sopan santun, lemah lembut, menang tanpo ngasor ake. Ini perlu diajarkan lagi lewat acara kayak begini. Biar menarik, tidak kaku,” pungkas Aris. 
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile