Gus Rofiq, Sosok Sederhana Itu Telah Pergi

Gus Rofiq, Sosok Sederhana Itu Telah Pergi
KH Muhammad Rofiq Azmi (Foto: dok. keluarga)
KH Muhammad Rofiq Azmi (Foto: dok. keluarga)
Jember, NU Online 
Mendung duka masih terasa di Jember menyusul kepergian KH Muhammad Rofiq Azmi ke haribaan Sang Khaliq, Senin (17/2). Tokoh yang biasa disapa Gus Rofiq itu meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang dideritanya, yaitu dibetes, infeksi paru, dan penyumbatan syaraf belakang.
 
Sejak tujuh tahun yang lalu penyakit itu telah menggerogoti tubuhya, namun Gus Rofiq masih bisa bertahan meski tak berdaya.
 
"Namun yang parah hingga menyebabkan wafat sejak setengah bulan yang lalu," ucap putra ketiga Gus Rofiq, Muhammad Haikal Azaim kepada NU Online di kediamannya, Selasa (18/2).
 
Gus Rofiq lahir di Jember tanggal 24 Februari 1950. Ia merupakan putra kedua dari lima bersaudara pasangan KH Achmad Siddiq dan Nyai Hj Sholihah.
 
Gus Rofiq memperdalam ilmu agama kepada ayahandanya sendiri dan KH Imam Jazuli (Gus Mik), Kediri. Karena itu, Gus Rofiq juga mengamalkan bacaan Dzikrul Ghofilin seperti yang dirintis oleh sang guru.
 
Sejak remaja, Gus Rofiq meniti karir sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember. Ia pernah menjadi camat di beberapa kecamatan, termasuk Sukorambi. Jabatan terakhirnya adalah Kabag Kesra Pemkab Jember.
 
Meskipun sibuk sebagai abdi negara, Gus Rofiq masih menyempatkan diri membina masyarakat di rumahnya di Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Kaliwates, Jember, melalui majelis wiridan Dzikul Ghofilin.
 
"Enam tahun sebelum pensiuan, bapak mengundurkan diri dari PNS. Alasannya, capai," terang Gus Haikal.
 
Di usianya yang senja, Gus Rofiq pindah ke rumahnya yang lain di Jalan Brawijaya, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Jember. Di situlah hari-hari tuanya  dihabiskan hingga ajal menjemputnya. 
 
Tak ada pesan istimewa untuk anak-anaknya selama menjalani kehidupan bersama. Anjuran yang sering diungkapkan adalah agar anak-anaknya menjaga shalat yang lima waktu, biasakan membaca Al-Qur'an setiap hari meski hanya satu dua ayat. Dan, jangan berbuat zalim kepada orang lain dan diri sendri.
 
"Wasiat bapak, sama dengan wasiat Mbah (Kiai Achmad Siddiq) itu. Yaitu jangan pernah meninggalkan shalat, biasakan baca Qur’an tiap hari, dan tidak boeh zalim kepada diri sendiri dan orang lain," ucap anak Gus Rofiq yang lain, Muhammad Mugi Ibnu Abi Aufa.
 
Jenazah Gus Rofiq dikebumilan di Kediri, satu kompleks dengan area pemakaman KH Achmad Siddiq. Tempat  peristirahatannya yang terakhir itu diletakkan di sebelah selatan makam kakeknya, KH Achmad Siddiq.
 
Nama Gus Rofiq memang kurang dikenal khalayak. Ini tak lepas penampilannya yang sederhana dan kehidupannya yang juga sederhana. Ia absen dari keriuhan politik dan hiruk-pikuk kehidupan dunia. Karena itu, wajar jika namanya nyaris tak terdengar di pentas kehidupan.
 
Gus Rofiq wafat dengan meninggalkan seorang istri, empat anak, dan 17 cucu. Ia telah pergi untuk selamanya. Tidak ada yang tersisa dari Gus Rofiq kecuali kesederhanaannya. Sebuah teladan yang laik ditiru di tengah kehidupan masyarakat yang cenderung hura-hura.
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile