Koin Muktamar NU di Pragaan Sumenep Disambut Syubbanul Wathan

Koin Muktamar NU di Pragaan Sumenep Disambut Syubbanul Wathan
Sambutan di salah satu sekolah di kawasan Pragaan Sumenep atas kehadiran kirab Koin Muktamar NU. (Foto: NU Online/Achmad Khalilurrahman)
Sambutan di salah satu sekolah di kawasan Pragaan Sumenep atas kehadiran kirab Koin Muktamar NU. (Foto: NU Online/Achmad Khalilurrahman)
Sumenep, NU Online
Perjalanan kirab Koin Muktamar NU telah tiba di Kecamatan Pragaan, Sumenep, Jawa Timur. Kehadiran tim disambut meriah di sejumlah tempat, termasuk sekolah maupun madrasah. 
 
Hal tersebut dibuktikan saat Koin Muktamar memasuki hari keempat, Kamis (20/2). Tim kirab mengunjungi sejumlah lembaga pendidikan di Desa Pragaan Daja, antara lain Madrasah Al-Islamiyah IV asuhan Kiai Syuja'i. Demikian pula Madrasah Nurur Rahmah Dandan di bawah asuhan Kiai Asy'ari. Demikian pula Madrasah Hidayatut Thalibin pimpinan KH Maimun Mannan dan madrasah yang diasuh Kiai Syaiful Hadi.
 
Sebagaimana hari hari sebelumnya, kunjungan tim kirab di madrasah tersebut diterima dengan gegap gempita dan penuh suka cita oleh para santri dan guru. Lagu Syubbanul Wathan sampai di lokasi bergemuruh seolah menjadi ruh penyambutan di setiap madrasah yang dikunjungi. 
 
Di Madrasah Al-Islamiyah IV rombongan disambut keluarga besar pengasuh. Di madrasah Nurur Rahmah Dandan Pragaan Daja, sejumlah guru dan murid turun berhamburan dari kelas. Bahkan ibu-ibu yang awalnya bertugas mengantar dan menjemput, turut mendekati dan berdonasi di kotak koin yang dibawa rombongan.
 
Zubairi salah seorang Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan saat sambutan menyebutkan bahwa para muassis atau pendiri NU sejatinya hadir di setiap kegiatan jamiyah.
 
“Namun karena mereka berada pada dimensi lain, kita tak dapat melihatnya,” katanya sembari bercerita singkat perjalanan sejarah NU dengan isyarat tongkat dan tasbih yang didengarkan peserta dengan seksama.
 
"Isyarat tongkat dan tasbih yang diberikan Syaikhona Cholil Bangkalan kepada KH M Hasyim Asy’ari adalah isyarat sejarah berdirinya NU. Tongkat bukan sembarang tongkat, melainkan tongkatnya Nabi Musa. Tasbih bukan sembarang tasbih tapi tasbih penyelamatan dan juga penghancuran. Jangan sebut kita cinta muassis kalau tidak ikut mendukung perjuangan NU,” kata Zubairi memberi semangat. 
 
Di kesempatan berbeda, antusias dan sambutan yang gegap gempita santri ini membuat rombongan tergetar. 
 
“Ini menunjukkan bahwa para muassis tidak main-main mendirikan NU. Mereka ikhlas, jujur dan punya misi besar untuk Islam moderat. Karena ikhlas,  gemanya tak lekang oleh waktu,” kata Ustadz Abdul Hadi.
 
Dirinya juga bangga karena dari kegiatan pengumpulan tersebut telah terhimpun sejumlah dana.
 
"Alhamdulillah di hari keempat ini perolehan kirab koin muktamar mencapai Rp2.690.000,- sebuah angka pencapaian yang mengembirakan," ujar ketua tim, Fatihul Abrar. 

 
Kontributor: Achmad Khalilurrahman
Editor: Ibnu Nawawi 
BNI Mobile