IMG-LOGO
Daerah

Di Dunia, Manusia Jangan Terlalu Senang Jangan Terlalu Sedih


Ahad 23 Februari 2020 14:00 WIB
Bagikan:
Di Dunia, Manusia Jangan Terlalu Senang Jangan Terlalu Sedih
Bupati Pringsewu KH Sujadi dalam pengajian Jihad Pagi, Ahad (23/2). (Foto: NU Online/Faizin)
Pringsewu, NU Online
Eling-eling siro manungso, temenono nggonmu ngaji. Mumpung durung katekanan, malaikat jurupati. Ojo siro banget-banget, nggonmu bungah ono dunyo. Malaikat jurupati, lirak lirik marang siro. Nggone nglirik malaikat, arep njabut nyowo niro. Nggone jabut angenteni, dawuhe kang Moho Mulyo.”

Inilah sepotong syair bijak Bahasa Jawa yang dilantunkan Bupati Pringsewu Lampung KH Sujadi untuk mengingatkan agar manusia sadar bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. 

Dalam syair yang sering dikumandangkan saat puji-pujian sebelum shalat di masjid dan mushala ini, manusia diingatkan tidak boleh terlalu senang dan juga terlalu sedih mengarungi kehidupan. karena, Malaikat Izrail siap mencabut nyawa manusia menunggu perintah Allah Swt.

Ia mengingatkan, bahwa manusia hanya seperti debu yang menempel di biji jagung dan tidak akan terlihat oleh pandangan mata. Dunia ini seperti biji jagung di tengah gugusan alam semesta, sehingga manusia diingatkan untuk tidak melebihi kapasitasnya sebagai manusia. Harus disadari bahwa di alam semesta ada yang mengatur dan menguasainya, yakni Allah Swt.
 

"Apa yang patut kita sombongkan. Apa yang bisa kita banggakan. Dunia tidak akan kita pakai selamanya. Kita akan kembali kepada Allah dengan amal kita masing-masing," tegasnya.

Amal ibadah selama di dunia pun tidak bisa menjadi hal yang bisa dibanggakan. Karena itu semua tidak menjamin akan diterima Allah dan menjadi washilah (sarana) manusia masuk surga-Nya. Menjadi sangat naif ketika kita merasa paling beriman, merasa ibadah yang dilakukan menjadi yang paling baik dan benar, sementara memandang orang lain rendah dan menilai ibadahnya tak diterima Allah.

Mengungkap kasus virus Corona yang sedang menimpa di daratan Tiongkok, seharusnya tidak mengatakan musibah ini adalah laknat dari Allah. Tidak seharusnya kita memojokkan orang-orang yang sedang terkena musibah tanpa melihat agamanya. Kita tidak akan tahu siapa nantinya yang akan mendapat hidayah, seperti kita tidak tahu apakah kita meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.

"Perlu disadari keimanan manusia menjadi ujian bagi dirinya juga sekaligus menjadi tolok ukur berharganya ia di hadapan Allah Swt," ingatnya.
 
Mustasyar PCNU Pringsewu ini mengingatkan pula kekuasaan Allah melalui sebuah doa bijak:

اَللّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَد ّاللّهُمَّ لَا مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ وَلَا هَادِيَ لِمَنْ أَضْلَلْتَ وَلَا مُشْقِيَ لِمَنْ أَسْعَدْتَ وَلَا مُسْعِدَ لِمَنْ أَشْقَيْتَ، وَلَا مُعِزَّ لِمَنْ أَذْلَلْتَ وَلَا مُذِلَّ لِمَنْ أَعْزَزْتَ، وَلَا رَافِعَ لِمَنْ خَفَضْتَ وَلَا خَافِضَ لِمَنْ رَفَعْت

Ya Allah, tidak ada yang bisa mecegah apa yang Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, tidak ada yang dapat menolak apa yang Engkau tetapkan, dan tidak bermanfaat kemuliaan bagi orang yang memiliki kemulaiaan. Ya Allah, tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang Engkau beri petunjuk, tidak ada yang mampu memberi petunjuk bagi orang yang Engkau sesatkan, tidak ada yang bisa mencelakakan orang yang Engkau beri kebahagiaan, tidak ada yang dapat memberi kebahagiaan bagi orang yang Engkau celakakan, tidak ada yang mampu memuliakan orang yang Engkau hinakan, tidak ada yang bisa menghinakan orang yang Engkau muliakan, tidak ada yang mampu mengangkat orang yang Engkau jatuhkan, dan tidak ada yang dapat menjatuhkan orang yang Engkau tinggikan.

Penjelasan ini disampaikannya saat menyampaikan kajian Tafsir Al-Qur'an surat Al Buruj pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang dilaksanakan di komplek Bendungan Way Sekampung, Pagelaran, Pringsewu, Lampung, Ahad (23/2).
 
Lokasi Jihad Pagi biasanya dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu. Namun, pada hari itu dilaksanakan di alam terbuka dengan menggelar Tasyakuran atas sudah berjalannya Jihad Pagi selama 5 tahun.

Pada kegiatan tasyakuran Jihad Pagi yang pertama kali dimulai pada 22 Februari 2015 ini, juga diluncurkan Buku Mutiara Hikmah Jihad Pagi yang berisi rangkuman materi selama 5 tahun. Seluruh keuntungan dari penjualan Buku yang sudah memiliki International Standard Book Number (ISBN) ini diperuntukkan untuk Koin Muktamar NU yang akan digelar di Lampung Oktober mendatang.

"Mudah-mudahan membawa keberkahan bagi kita semua," kata Ketua PCNU Pringsewu H Taufik Qurrahim, pada Jihad pagi yang dihadiri Ketua Umum MUI Pringsewu, KH Hambali, Wakil Ketua DPRD dan para anggota DPRD Pringsewu, para camat, lurah, dan pengurus NU di Pringsewu.

Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Musthofa Asrori
 
Bagikan:
IMG
IMG