D Zawawi Imron: Ingin Terhormat, Perbaiki Akhlak

D Zawawi Imron: Ingin Terhormat, Perbaiki Akhlak
Seminar nasional bersama D Zawawi Imron, Zastrouw Al Ngatawi dan Iksan Kamil Sahri, Senin (24/2). (Foto: NU Online/Ibnu Nawawi)
Seminar nasional bersama D Zawawi Imron, Zastrouw Al Ngatawi dan Iksan Kamil Sahri, Senin (24/2). (Foto: NU Online/Ibnu Nawawi)
Surabaya, NU Online
Penyair nasional dari Sumenep D Zawawi Imron mengingatkan bahwa perangai baik menjadi ukuran yang bersangkutan hidupnya akan terhormat. Oleh sebab itu, dalam mengawali aktifitas hendaknya dimulai dengan hal baik di antaranya dengan tersenyum.

“Marilah kita mulai pertemuan ini dengan tersenyum, sebab siapa yang mampu tersenyum di pagi hari maka akan mampu tersenyum sepanjang hari,” katanya yang tampil dalam seminar nasional bersama Zastrouw Al Ngatawi dan Iksan Kamil Sahri, Senin (24/2).

Dalam pandangan kiai yang juga dikenal sebagai budayawan Madura ini, senyum adalah perwujudan dari akhlak terpuji. Dan hal tersebut juga dapat diikuti dengan perangai luhur lainnya. Hal ini pernah diingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa untuk dapat dihormati kalangan lain, maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki perangai.

“Barangsiapa yang baik akhlaknya, seperti Rasulullah insyaallah di manapun dia akan dihormati oleh orang lain,” jelasnya sekaligus menyinggung nilai-nilai keislaman yang hidup dalam budaya orang Nusantara.

Seminar nasional  dengan tema Menumbuhkan Nilai Agama Islam yang Toleran melalui Seni dan Budaya di Era Kekinian ini digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Fithrah Surabaya bersama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa atau UKM yang ada.

Sementara Zastrouw Al-Ngatawi menegaskan, banyak orang salah paham tentang sikap toleran. Dijelaskannya, sikap toleran merupakan muamalah di antaranya toleransi terhadap perilaku orang lain beribadah menurut keyakinannya.

“Batasannya kalau di muamalah kemaslahatan, kemadharatan dan adil. Kalau di akidah ketika sudah dipaksa untuk mengikuti akidah atau memaksa mengikuti cara ibadah ritual formal kalangan lain,” jelasnya. 

Batasan toleransi dalam Islam ialah nilai-nilai dan ajaran Islam yang membentuk perilaku umat Islam untuk bersikap tenggang rasa terhadap pemikiran, sikap dan juga perilaku kelompok lain yang berbeda.

Ia juga menyoroti era kekinian di mana banyak tenaga manusia digantikan mesin dan manusia sudah mulai bisa mengembangkan dunia digital secara revolutif serta kecerdasan buatan.

“Maka peran penting menyapa anak-anak generasi milenial dan generasi Z ini sangat penting melalu media sosial dan platform lainnya. Karena hal tersebut menembus batas wilayah dan ideologi,” ungkapnya. 

Di akhir sesi, mantan Ketua Lesbumi PBNU ini berpesan bahwa pesantren merupakan tempat emas dan berlian. “Silakan asah dan kembangkan. Jangan sampai kita menjadi bangsa kera yang membuang emas permata hanya untuk sebuah pisang,” pungkasnya.
 
Kegiatan yang dilaksanakan di ruang auditorium kampus setempat ini merupakan puncak dari rangkaian Festival Alit III Nasional 2020. Festival Alit sendiri berlangsung selama sepekan dengan berbagai perlombaan.
 
Acara ditutup penampilan stand up comedy oleh Fuad Adi Samita dan penampilan pembacaan musikalisasi puisi karya dua maestro puisi Indonesia D Zawawi Imron dan Mustofa Bisri oleh mahasiswa STAI Al-Fithrah.
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Muhammad Faizin
BNI Mobile