Ketua NU Pringsewu: Kiai Mendidik Santri dengan Hati, Bukan karena Gaji

Ketua NU Pringsewu: Kiai Mendidik Santri dengan Hati, Bukan karena Gaji
Ketua PCNU Pringsewu H Taufik Qurrahim (Foto: NU Online/M Faizin)
Ketua PCNU Pringsewu H Taufik Qurrahim (Foto: NU Online/M Faizin)
Pringsewu, NU Online
Pesantren merupakan sistem pendidikan tertua di nusantara. Di dalamnya terintegrasi berbagai bidang ilmu pengetahuan yang penting sebagai modal mengarungi kehidupan. Bukan hanya ilmu pengetahuan agama, berbagai disiplin ilmu umum juga diajarkan pada para santri.
 
Seiring perkembangan, pesantren saat ini juga banyak yang sudah memiliki lembaga pendidikan formal. Tentunya ini juga akan lebih memastikan kualitas santri setelah lulus pendidikan. Kekhawatiran akan menjadi apa setelah nyantri seharusnya sudah tidak ada lagi. Sebagai bukti saat ini banyak para santri mampu berkiprah dan sukses di berbagai bidang kehidupan.
 
"Jika mau dibandingkan besar mana biaya yang dihabiskan antara anak yang dididik di pesantren dengan yang tidak di pesantren? Saya kira malah banyak yang di luar pesantren," kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pringsewu H Taufik Qurrahim, Senin (24/2) malam saat diskusi terkait pesantren di era kekinian.
 
Ia pun menghitung biaya yang harus dikeluarkan orang tua yang tidak mendidik anaknya di pesantren. Dalam sehari, dibutuhkan uang transport perjalanan dari rumah ke sekolah, uang konsumsi dan jajan, dan dana-dana lainnya terkait biaya pendidikan di sekolah.
 
"Kalau di pesantren sudah tidak perlu biaya transportasi. Semua kebutuhan sudah ada di pesantren dan kebutuhan konsumsi juga relatif murah," jelasnya.
 
Dengan biaya yang lebih terjangkau juga, para santri dididik dengan kemandirian, kepekaan terhadap lingkungan, dan yang terpenting diajari akhlak yang baik. Bagaimana menghormati sesama santri terlebih kepada ustadz dan kiai ditanamkan sejak dini sehingga akhlakul karimah terwujud dalam tindakan sehari-hari.
 
Pendidikan dan pengamalan akhlak di pesantren menjadi hal penting di tengah maraknya degradasi moral yang menerpa para pelajar saat ini. Di berbagai pemberitaan terlihat nyata bagaimana pelajar melawan gurunya dan orang tua yang melaporkan guru hanya karena niatan mendisiplinkannya.
 
"Pesantren menjadi solusi terciptanya generasi yang cerdas otaknya dan baik akhlaknya, karena di pesantren, kiai mendidik santri dengan hati bukan karena gaji," tegasnya.
 
Ia menilai keikhlasan dan keistiqomahan menjadi kunci suksesnya para kiai mendidik para santri sehingga mampu menjadi sosok yang memberi manfaat bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile