Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ibrahim al-Kurani Tuangkan Spirit Toleransi Keagamaan di Nusantara

Ibrahim al-Kurani Tuangkan Spirit Toleransi Keagamaan di Nusantara
Zacky Khairul Umam, Wakil Ketua Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI) saat mengisi kajian dua bulanan dengan tema Rekonfigurasi Islam Abad Ke-17 di Nusantara di Institut Francais d’Indonesie (IFI) di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (26/2). (Foto: Idris)
Zacky Khairul Umam, Wakil Ketua Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI) saat mengisi kajian dua bulanan dengan tema Rekonfigurasi Islam Abad Ke-17 di Nusantara di Institut Francais d’Indonesie (IFI) di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (26/2). (Foto: Idris)
Jakarta, NU Online
Adalah Ibrahim al-Kurani, sosok ulama yang menjadi rujukan para ahli Islam Nusantara pada abad ketujuh belas. Ia berhasil memberikan sentuhan gagasan jalan tengah sebagai sebuah tawaran win-win solution atas dua kutub yang saling berseberangan dengan pandangannya reinterpretasi takwil.

“Menemukan mengumpulkan dua pendapat berbeda dan memberikan reinterpretasi baru lebih diutamakan,” kata Zacky Khairul Umam, Wakil Ketua Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI) saat mengisi kajian dua bulanan dengan tema Rekonfigurasi Islam Abad Ke-17 di Nusantara di Institut Francais d’Indonesie (IFI) di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (26/2).

Menurutnya, hal tersebut mewarnai pandangan toleransi keberagamaan dan menyeimbangkan pemahaman agama filosofis dan praksis.

“Dalam konteks Nusantara, (al-Kurani) memberikan semangat baik untuk toleransi keberagamaan dan juga untuk memberikan aspek yang seimbang anatara pemahaman agama yang bersifat filosofis dan juga tradisi yang bersifat praktik sehari-hari, yaitu ritual keagamaan,” katanya.

Selain reinterpretasi takwil, Zacky menjelaskan bahwa al-Kurani juga menaruh pemahaman penting lainnya, seperti menekankan praktik sufisme tanpa meninggalkan syariat, menolak keras pemahaman takfiri, dan mengampanyekan toleransi.

“Ibrahim al-Kurani memberikan stimulus kuat ide dan intelektual untuk menekankan wasathiyah,” kata pria yang pernah menjadi Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman itu.

Pandangannya yang sedemikian luwes itu dilatarbelakangi proses pendidikannya. Ia memiliki jalur keilmuan dari dua kutub imperium, yakni Timuriah yang menekankan sufisme filosofis dan Mamluk dan Utsmani yang lebih bersifat hadis.

“Al-kurani menggabungkan dua ini. Memang silsilahnya dari dua ini, campuran unik, tidak dimiliki oleh ulama lainnya,” ujarnya.

Kemudian, Ibrahim al-Kurani ini menyemai pandangannya ke para muridnya, termasuk dari Nusantara, seperti Syekh Yusuf al-Maqassari, Syekh Abdul Karim al-Bantani, dan Syekh Abdurrouf al-Singkili.

“Para murid al-Kurani mentransmisikan dan mendominasi otoritas keagamaan abad 17 paruh kedua,” kata kandidat doktor Universitas Freie Berlin, Jerman itu.

Pasalnya, para muridnya tersebut memiliki otoritas secara intelektual dan keagamaan hingga diangkat menduduki jabatan di wilayahnya masing-masing. “Banyak muridnya di seluruh dunia karena menduduki jabatan penting di daerahnya masing-masing,” jelasnya.

Pandangan al-Kurani di Nusantara, jelas Zacky, tidak hanya ditopang oleh adanya ulama Nusantara yang belajar langsung kepadanya dan menyalin ulang beberapa manuskrip yang ditulisnya, tetapi juga secara material, naskah salinannya dibawa ke Nusantara.

Namun, nama Ibrahim al-Kurani tidak begitu dikenal oleh masyarakat Nusantara saat ini, terlebih beragam pandangan dan pemahaman keagamaannya. Menurutnya, konteks nasionalisme di era poskolonial saat ini cukup memengaruhi hal tersebut.

Pasalnya, sosok al-Kurani merupakan ulama yang berasal dari wilayah Kurdi, meskipun tinggal di Madinah. Sebagaimana diketahui bersama, Kurdi tidak memiliki kedaulatan atas wilayahnya sehingga sangat mempengaruhi politik edisi manuskrip karya-karyanya yang berjumlah lebih dari 100 itu.

“Kurdi tidak memiliki satu negara pasti. Itu sangat mempengaruhi politic of editing manuscript,” ujarnya.

Belakangan, lanjutnya, baru muncul penelitian tentangnya karena kesadaran intelektual. Oman Fathurahman, misalnya, karena latar belakang keindonesiaannya. Baru-baru ini juga, katanya, terdapat penelitian tentangnya di Turki dan Mesir.

“Sebetulnya karena nation state persoalan Kurdi karena perang dan sebagainya,” pungkasnya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile