IMG-LOGO
Fragmen
HARLAH KE-66 IPNU

Pesantren dan Sekolah Jadi Tonggak Utama IPNU


Jumat 28 Februari 2020 16:15 WIB
Bagikan:
Pesantren dan Sekolah Jadi Tonggak Utama IPNU
Sejarah IPNU di masa awal berdiri dengan cabang-cabangnya
Seperti yang telah dipaparkan pada tulisan sebelumya, dalam kurun dua tahun sejak didirikan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), kepengurusan Pimpinan Pusat IPNU di bawah kepemimpinan Tolchah Mansoer, berhasil mendirikan cabang-cabang baru di berbagai daerah, yang berjumlah kurang lebih 100 cabang. Di masa awal tersebut, wilayah kaum santri dan tentu pesantren menjadi salah satu basis dalam pendirian dan pengembangan IPNU di daerah.

Maka tak heran, penamaan cabang-cabang yang baru dibentuk itu kemudian juga tidak melulu berdasarkan kepada nama kabupaten/kota, layaknya IPNU di masa sekarang, namun dinamakan sesuai kampung di mana terdapat pesantren, seperti halnya Krapyak. Kadang kala penamaan cabang tersebut, yang didasarkan pada nama kecamatan, seperti Wonopringgo dan Margoyoso. Khusus kedua cabang ini, kebetulan penulis mendapatkan data lengkap nama-nama pengurus dan alamat kantor di masa tahun 1961.

Pada Oktober 1961, majalah “Risalah Organisasi IPNU” yang diterbitkan Departemen Penerangan Pimpinan Pusat IPNU, merilis sejumlah cabang yang kala itu sudah berdiri, di antaranya Cabang Wonopringgo dan Margoyoso. Menjadi menarik, sebab bila kita mencari nama cabang-cabang tersebut, kini sudah tiada. Keduanya, kini menjadi nama kepengurusan di tingkat kecamatan (Pimpinan Anak Cabang / PAC). PAC Wonopringgo di bawah Cabang Kabupaten Pekalongan, sedangkan PAC Margoyoso masuk ke wilayah IPNU Cabang Pati.

Baca: 'Risalah Organisasi IPNU', Majalah Pelajar NU Era 1960-an

Wonopringgo dan Margoyoso, keduanya memiliki kesamaan sebagai daerah pesantren. Di Margoyoso misalnya, pada tahun 1954-1961, era di saat IPNU didirikan dan mulai berkembang, sudah terdapat beberapa pesantren dan madrasah (sekolah) di daerah Kajen, yang menjadi rujukan para santri dari berbagai penjuru Tanah Air. Sebut saja Pesantren Kulon Banon, Wetan Banon (Salafiyah), Maslakul Huda, Mathali’ul Huda, dan lain sebagainya.
 
Sedangkan di Wonopringgo, yang sudah terbentuk Kring NU, sejak tahun 1939, juga terdapat banyak pesantren dan beberapa lembaga pendidikan milik NU, seperti S.R.I (Sekolah Rakyat Islam, kini Yayasan Madrasah Islamiyah/YMI) di Kwagean.

Adapun susunan pengurus Tjabang Margoyoso dan Wonopringgo di tahun 1961 (untuk penjelasan nama-nama pengurus barangkali nanti bisa dilengkapi dari penulis yang lain), yakni :

1. Tjabang Margoyoso (Alamat : Rumah A. Rifai Nasuha Kadjen Margojoso)

Pelindung : A. Rifai Nasuha. Ketua I dan II : A. Fajumi dan Djuremi. Sekretaris I dan II : A. Muslam dan Hasjim S. Bendahara I dan II : Abd. Bari dan Zawawi.

Departemen2
Pendidikan I dan II : Muzamil S dan H Faqih. Penerangan I dan II : Hadliq S dan Nur Hamid. Kader I dan II : Sholeh Ibrohim dan M Durrijun. Sosial I dan II : Hadliq M dan Mustadjab N. Olahraga I dan II : Mustadjab M dan Muzajin H. Kesenian/Kebudayaan I dan II : Mahfudz dan Muslim. Pembantu2 : Masruhin, Abd. Hamid, Asrori, dan Abd. Karim.

2. Tjabang Wonopringgo (Alamat : S.R.I. Wonopringgo I)

Pelindung : Camat, BODM (Bintara Onder Distrik Militer/Kodim), Komandan Polisi Wonopringgo. 

Penasihat : M. Bakir Dimjati, H.M. Buchori, dan H. Chumaidi.
Ketua I dan II : Ah. Sjirozi Zuhdi dan A. Qurofi Hajin. Sekretaris I dan II : Chazir Anwar dan Chafidz Affandi. Bendahara I dan II : A. Machmud A. Amin dan Izudin Djazuli.
 
Departemen2
Pendidikan I dan II : A. Kuzari Hajin dan Muslim Achmad. Penerangan I dan II : Misbah Malibary dan Bachir Ghozali. Kader I dan II : Maftuh Quljubi dan A. Nadjib Sjamsuddin. Sosial I dan II : Djabir Maliki dan A. Barowi Buzari. Olahraga I dan II : Kastoha Na’im dan Tjashari. Kesenian/Kebudayaan I dan II : Ach. Muslih Malibari dan Asrori. Pembantu2 : A. Churozi, Fuzari Bahrum, Ismail Anwar, dan Nur Zain.

Para pengurus ini kebanyakan dari mereka para alumni pesantren, madrasah, dan sekolah umum. Pesantren, sekolah, dan juga universitas (kampus) inilah yang menjadi tonggak dari keberadaan IPNU. Tolchah memiliki visi untuk menyatukan beberapa elemen tersebut, yakni pelajar umum dan kaum santri (pesantren). Menurut Tolchah adanya “perkawinan intelektual” ini menjadi penting bagi kaum Nahdliyin, juga bangsa Indonesia pada umumnya, untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Kata Tolchah, kala itu : “... satu fihak jang mempunjai ketjakapan jang mendalam di dalam ilmu agama, di lain fihak kurang pengetahuannja dalam lapangan agama, dan jang lain lagi jang mempunjai kedua-duanya itu dengan seimbang, jang terachir ini djarang sekali. Semua ini diperlukan untuk menghadapi masa jang akan datang... Ja, hari jang akan datang adalah hari kita, milik kita, kita pewaris2 zaman jang akan datang...“

Di masa Tolchah mengembangkan IPNU tersebut, tentu keadaannya tidak seperti sekarang, yang sudah sangat cair antara ilmu umum dan ilmu agama, begitu pula dengan hubungan antara sekolah dan pesantren, yang kebanyakan justru telah menjadi satu kesatuan. Namun, justru inilah yang kemudian dapat menjadi keuntungan serta kekuatan penting, bagi para pengurus IPNU di masa sekarang.

Penulis: Ajie Najmuddin
Editor: Abdullah Alawi 
 
Bagikan:
IMG
IMG