Sekjen Rabithah Alam Islami ke PBNU Tunjukkan NU Makin Diperhitungkan Dunia

Sekjen Rabithah Alam Islami ke PBNU Tunjukkan NU Makin Diperhitungkan Dunia
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Foto: NU Online/Abdullah Alawi)
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Foto: NU Online/Abdullah Alawi)
Jakarta, NU Online 
Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa bersilaturahim ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (27/2). Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, untuk pertama kainya Liga Muslim Dunia itu bertamu ke PBNU.
 
Menurut Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf kunjungan tersebut menunjukkan terjadinya pergeseran konstelasi internasional. Dalam hal ini, NU berhasil merangsek ke tengah yang sebelumnya tidak masuk “hitungan” mereka. 

“Kekuatan besar global sudah memperhitungkan NU sebagai potensi yang dapat mendorong jalan keluar kemelut dunia Islam hari ini,” katanya mengomentari pertemuan sehari sebelumnya yang juga diikutinya itu, Jumat (28/2).

Menurut dia, hari ini, semua pihak terdorong menyambung hubungan dengan NU. Hal ini tercermin di dunia Arab sendiri untuk semakin malihat alurnya NU. 

Menurut kiai yang akrab disapa Gus Yahya ini, belakangan di Timur Tengah sangat terkenal dengan dokumen Abu Dhabi setelah pertemuan Paus dan Grand Syekh Al-Azhar. Isi dokumen tersebut tidak jauh berbeda dengan keputusan Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur pada tahun 1984, yakni tentang ukhwah basyariyah. 

“KH Ahmad Shiddiq waktu mengemukakan tentang ukhuwah basyariyah sementara saat ini dokumen Abu  Dhabi mengusung ukhuwah insaniyah. Apa bedanya, artinya sama, sama-sama persaudaraan antarmanusia,” jelasnya. “Jadi, NU sudah lama mengusulkan istilah itu,” lanjutnya. 

Gus Yahya menilai, keputusan NU puluhan tahun lalu, dihitung dunia Islam saat ini yang menemui kebuntuan. 

“Makanya kemarin Syekh Al-Issa terang-terangan mengatakan bahwa dia yakin bertahannya Indonesia di tengah kemelut dunia Islam adalah berkat adanya NU,” ungkapnya. “Nah, saya kira, ini berarti pertama, bahwa ikhtiar kita untuk mengartikulasikan wawasan-wawasan NU kepada dunia, sudah didengar dan diperhatikan dan bahkan sekarang membangkitkan harapan dunia terhadap NU. Dunia berharap peran NU,” lanjutnya.  

Kedua, terbukanya ruang yang luas sekali untuk kiprah NU ke depan dan itu harus dilakukan sebaik-baiknya. 

“Ada dua prinsip peran internasional NU, pertama, NU harus konsisten mengartikulasikan dan memperjuangakan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Jangan sampai mencla-mencle, pokoknya yang dibela NU adalah kemaslahatan seluruh umat manusia dan perdamaian,” katanya.  

Yang kedua, NU harus koheren, artinya padu. Semua pengurus NU harus bicara tema itu secara seragam. Kalau berhasil dengan dengan dua hal itu, maka cita-cita para pendiri NU agar organisasi yang didirikannya meminpin perjuangan umat manusia dalam membangun peradaban yang lebih mulia, bisa tercapai.  

Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad 
 
BNI Mobile