IMG-LOGO
Opini

Salafi Wahabi dan Pemalsuan Kitab Kuning

Kamis 5 Maret 2020 06:00 WIB
Salafi Wahabi dan Pemalsuan Kitab Kuning
Sebelum membaca, membeli, atau mengoleksi kitab klasik dan buku terjemahan, baiknya telaah dahulu penerbit, penulis, penelaah, dan penerjemahnya.

Oleh Kevin Ridho Al Khudri

 

Kitab tafsir al-Jalālain (Dua Jalal) merupakan kitab tafsir yang laris diburu oleh pelajar di seluruh belahan dunia, khususnya Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi’i. Selain karena bahasanya simpel dan tidak bertele-tele, kitab tafsir tersebut juga hanya mencantumkan kaul yang paling sahih sehingga menjadi kajian dasar dan utama di pesanren-pesantren tradisional. Ibaratnya, tidak ada satu pun pondok pesantren tradisional yang tidak mengaji tafsir tersebut.

 

Saking ringkasnya tafsir Dua Jalal, para ulama sampai menganjurkan agar memegang dan membawa tafsir tersebut dalam keadaan berwudhu. Hal itu karena jumlah penafsiran hanya lebih banyak satu huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an. Sehingga dikhawatirkan ada kesalahan cetak yang mengakibatkan jumlah huruf Al-Qur’an dan tafsirnya sama atau bahkan lebih banyak huruf Al-Qur’annya. Yang mana dalam mazhab Syafi’i, telah jelas keharamannya bagi orang yang berhadats dalam memegang Al-Qur’an dan tafsir yang hurufnya tidak melebihi huruf Al-Qur’an.

 

Kepopuleran tafsir Dua Jalal nyatanya tidak hanya di kalangan mazhab Syafi’i. Terbukti bahwa Syekh Ahmad bin Muhammad ash-Shawi yang bermazhab Maliki turut andil dalam mengaji dan menelaah tafsir tersebut. Buah dari telaahannya itu, Syekh ash-Shawi menyusun hasyiah atau kitab penjelas dari tafsir Dua Jalal. Kitab tersebut dinamakan Ḥāsyiyah al-Shāwī `alā Tafsīr al-Jalālain.

 

Syekh ash-Shawi merupakan ulama yang bermazhab Maliki dalam fiqih, dan Asyari dalam aqidah. Beliau lahir di Mesir pada tahun 1175 Hijriah atau 1761 Masehi, 60 tahun setelah kelahiran Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri aliran Wahabi) dan 31 tahun sebelum kematiannya. Artinya. Bisa dikatakan bahwa Syekh ash-Shawi hidup semasa dengan Syekh Ibnu Abdul Wahhab. Beliau juga terkenal aktif dalam menyuarakan kesesatan aliran Wahabi dan menganggapnya sebagai aliran Khawarij masa kini.

 

Misalnya, dalam kitab Ḥāsyiyah al-Shāwī `alā Tafsīr al-Jalālain, ketika memberikan hasyiah dalam Surat al-Fāthir ayat tujuh, Syekh ash-Shawi menuliskan:

 

وقيل هذه الآية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة ويستحلون بذلك دماء المسلمين وأموالهم كما هو مشاهد الآن في نظائرهم وهم فرقة بارض الحجاج يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيئ ألا إنهم هم الكاذبون استحوذ عليهم الشيطان فأنساهم ذكر الله أولئك حزب الشيطان ألا أن حزب الشيطان هم الخاسرون نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.

Menurut satu pendapat, ayat ini diturunkan berkaitan dengan kaum Khawarij, meraka adalah orang-orang yang mendistorsi penafsiran Al-Qur’an dan Sunah. Mereka menghalalkan darah dan harta benda orang-orang Islam, sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yakni kelompok yang berada di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahabiyah. Mereka mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang yang terkemuka, padahal mereka adalah para pendusta. Setan telah memperdaya mereka sehingga lalai mengenal Allah. Mereka adalah golongan setan, dan sungguh golongan setan itu orang-orang yang merugi. Kita berdoa kepada Allah yang Mahamulia, semoga menghancurkan pondasi mereka.

 

Tulisan tersebut dikutip dari Ḥāsyiyah al-Shāwī `alā Tafsīr al-Jalālain juz III cetakan al-Azhar Mesir pada tahun 1345 Hijriah atau 1926 Masehi, satu abad setelah wafatnya Syekh ash-Shawi. Cetakan tersebut merupakan cetakan tertua dari hasyiah Syekh ash-Shawi yang saya baca, dan disalin dari naskah Amīriyyah cetakan tahun 1290 Hijriah dan naskah lainnya yang terpercaya. Jadi, bisa dipastikan bahwa tulisan yang saya kutip adalah hasyiah asli dari Syekh ash-Shawi.

 

Pada cetakan yang lebih modern, yakni yang diterbitkan oleh Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah (DKI) Beirut serta diteliti dan dikoreksi oleh Muhammad Abdussalam Syahin, di juz III pada ayat terkait hanya terdapat perbedaan dalam ungkapan: كما هو مشاهد الآن yang ditulisnya menjadi: لما هو مشاهد الآن. Hal itu boleh jadi kesalahan cetak. Namun, tetap tidak mengubah makna, karena huruf lam sebagai preposisi (ḥarf al-jar) bisa bermakna ta´līl atau pembenaran. Sehingga, ungkapan tersebut diartikan: karenanya apa yang teradi dewasa ini. Perbedaan penulisan tersebut juga terjadi pada cetakan Dār Iḥyā` al-Turāṡ al-`Arabī, di juz V yang sama dengan cetakan DKI.

 

Ironisnya, perbedaan yang mencolok dan mengubah konteks asli terjadi pada cetakan tahun 2009 yang diterbitkan oleh Dār al-Fikr Beirut serta disusun, diteliti, dan dipersembahkan oleh Muhammad Sadqi al-Attar. Dia adalah salah satu tokoh Salafi Wahabi yang banyak mentahkikkan kitab-kitab klasik karangan ulama salaf. Profil lengkapnya sangat susah ditemukan, karena perannya hanya sebagai editor, bukan penulis terkenal. Namun, dari hasil editannya terhadap kitab-kitab klasik, banyak yang dihapus, ditambah, bahkan diubah.

 

Dalam menyusun ulang Ḥāsyiyah al-Shāwī `alā Tafsīr al-Jalālain Juz V Surat al-Fāṭir ayat tujuh (terdapat di halaman 1688), dia hanya menulis:

 

وقيل: هذه الآية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة، ويستحلون بذلك دماء المسلمين وأموالهم، لما هو مشاهد الآن في نظائرهم يحسبون أنهم على شيئ ألا إنهم هم الكاذبون، استحوذ عليهم الشيطان، فأنساهم ذكر الله، أولئك حزب الشيطان، ألا أن حزب الشيطان هم الخاسرون، نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.

"Menurut satu pendapat, ayat ini diturunkan berkaitan dengan kaum Khawarij, meraka adalah orang-orang yang mendistorsi penafsiran Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menghalalkan darah dan harta benda orang-orang Islam, karena itu yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka. Mereka mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang yang terkemuka, padahal mereka adalah para pendusta. Setan telah memperdaya mereka sehingga lalai mengenal Allah. Mereka adalah golongan setan, dan sungguh golongan setan itu orang-orang yang merugi. Kita berdoa kepada Allah yang Mahamulia, semoga menghancurkan pondasi mereka."

 

Dari sana, sangat jelas bahwa al-Attar mencoba “melindungi” Syekh Ibnu Abdul Wahhab dan memanipulasi pengikutnya dengan menghapus ungkapan: وهم فرقة بارض الحجاج يقال لهم الوهابية (yakni mereka adalah kelompok yang berada di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahabiyah). Ketiadaan ungkapan tersebut, tentu saja sebuah kesengajaan, bukan kesalahan percetakan. Karena dia telah menghilangkan satu kalimat penuh yang akibat ketiadaannya bisa mengubah makna yang dimaksud oleh penulis aslinya. Dengan ketiadaan kalimat tersebut, orang bisa saja mengira-ngira atau bersyak wasangka, siapa “golongan mereka” yang dimaksud oleh Syekh ash-Shawi. Sehingga menimbulkan prasangka buruk kepada kelompok-kelompok lain. Padahal, telah jelas disebutkan bahwa “golongan mereka” yang dimaksud ialah aliran Wahabiyah.

 

Sungguh pemalsuan yang sangat hina atas karya agung dari para ulama. Dia membuang apa yang merugikan kelompoknya, menjaga apa yang menguntungkan, menghalangi umat dari kebenaran, dan memanipulasi umat hingga tetap berada dalam kesesatan dan kebohongan. Dari sana, tentu saja perkataan Syekh ash-Shawi terbukti benar dan akurat, mereka mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang terkemuka, padahal mereka adalah para pendusta. Telak, tanpa terelak.

 

Dari kasus tersebut, kiranya umat harus sangat berhati-hati dalam membaca dan mengoleksi buku agama. Karena kitab-kitab klasik, kitab-kitab kuning, yang lazim dikaji dan pelajari di pesantren-pesantren tradisional mulai dimanipulasi oleh kelompok-kelompok sesat. Mereka mempelajari dan mengaji kitab klasik, bukan untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi untuk mengkritik, mencela, menghina, dan mencari-cari kesalahan alim ulama. Mereka menelaah dan meneliti kitab kuning, bukan untuk dijadikan landasan beribadah, tetapi untuk menyesatkan umat dengan cara memanipulasi naskah asli dan menyebarkan kebingungan di kalangan pelajar.

 

Untuk sekelas kitab klasik berbahasa Arab pun harus berhati-hati, apalagi untuk buku-buku terjemahan. Banyak sekali buku terjemahan dari kitab klasik atau kitab kuning yang jauh dari maksud penulis asli. Kitab-kitab tersebut diterjemahkan oleh mereka yang tidak paham bahasa Arab, atau paham bahasa Arab tetapi tidak paham ilmu fiqih, hadits, tafsir, dan sebagainya. Atau paham kesemuanya, namun buta akan kaidah tiap mazhab.

 

Oleh sebab itu, sebelum membaca, membeli, atau mengoleksi kitab klasik dan buku terjemahan, baiknya telaah dahulu penerbit, penulis, penelaah, dan penerjemahnya. Ada penerbit yang memang menerbitkan kitab-kitab yang sudah dimanipulasi, ada pula penerbit yang bersih namun penulis, penelaah, dan penerjemahnya yang manipulatif. Semoga Allah menjaga kita dari manipulasi para pendusta. Semoga Allah memberi hidayah pada para pendusta.

 

 

Penulis adalah Pengurus Pondok Pesantren Al Khudriyah Banten, Alumnus Sastra Arab Universitas Padjadjaran, dan Duta Bahasa Jawa Barat 2017

 

 

 

Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG