Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Peristiwa Isra Mi'raj Ditetapkannya Shalat Fardhu

Peristiwa Isra Mi'raj Ditetapkannya Shalat Fardhu
Pengasuh Pesantren Citangkalo, Kota Banjar, Jabar KH Mu'in Abdurrohim (Foto: NU Online/Aisyah)
Pengasuh Pesantren Citangkalo, Kota Banjar, Jabar KH Mu'in Abdurrohim (Foto: NU Online/Aisyah)
Kota Banjar, NU Online
Pengasuh Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar Jawa Barat KH Mu'in Abdurrohim menyebutkan, dalam kitab Al-Barjanzi karya Sayyid Ja'far Al-Barjanzi di mana dalam atiril sebelumnya menerangkan peristiwa ammul huzni atau tahun kesedihan mengantarkan Nabi Muhammad Saw dipanggil oleh Allah SWT untuk Isra mi'raj. 
 
"Akhir dari peristiwa ini adalah sebuah ketetapan berupa shalat fardhu lima waktu yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad secara langsung tanpa perantara," ujarnya di hadapan ribuan santri yang mengikuti pengajian rutinan Isra Miraj di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Rabu (4/3) sore.
 
Dijelaskan, keesokan harinya Nabi Muhamad SAW menceritakan peristiwa Isra mi'raj  di hadapan masyarakat banyak dan para kepala suku. Yang mempercayai akan adanya isra mi'rajnya Nabi Muhamad adalah 6 orang dari Sahabat Ansor. Dan 6 orang tersebut telah dikhususkan oleh Allah dan dipastikah akan masuk surga.
 
"Jadi orang yang pertama kali mempercayai akan Isra Mi'raj adalah 6 orang dari Sahabat Ansor," ungkapnya.
 
Setelah itu lanjutnya, menurut kitab yang sama datanglah 12 orang yang pergi berhaji dari kota Yatsrib ke Baitullah di Makkah kemudian mereka menyatakan masuk islam dan menyatakan bai'at untuk selalu setia terhadap Nabi.
 
"Peristiwa ini terjadi pada tahun ke 13 setelah Nabi diutus menjadi Rasul," tegasnya. 
Disampaikan, setelah itu datanglah 75 orang yang terdiri dari 73 laki-laki dan 2 orang perempuan. Mereka berasal dari suku Aus dan Khajraz. Lalu mereka resmi memeluk islam dan menyatakan ba'iat di hadapan Nabi Muhamad SAW.
 
"Lalu diperintahlah oleh Nabi sebanyak 12 muslim kota Makkah berhijrah ke kota Yatsrib," kisahnya.  
 
Menurut Kiai Mu'in, alasan mereka berhijrah salah satunya karena merasa terkekang dan tersiksa akibat diembargo dan dikucilkan oleh orang-orang kafir Quraisy.
 
Dikatakan, melihat banyak sekali orang berbondong-bondong masuk Islam dan rencana Nabi Muhamad berhijrah ke kota Yatsrib diketahui oleh Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka bersepakat untuk mengadakan sayembara untuk berlomba-lomba membunuh Nabi Muhamad SAW.
 
"Abu Lahab dan Abu Jahal takut akan hijrahnya Nabi yang pasti akan membuat semakin besarnya Islam," katanya.
 
Masih dalam atiril yang sama diceritakan bahwa pada suatu malam sekelompok orang yang ingin membunuh Nabi mengepung rumah beliau. Di dalam rumah hanya ada Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar As-Shiddiq.
 
Mereka bermusyawarah dan akhirnya diputuskan yang akan menempati rumah adalah Sahabat Ali sedangkan Abu Bakar ikut hijrah bersama Nabi Muhamad SAW. karena mengetahui rumah telah dikepung, maka nabi menaburkan debu kepada mereka, seketika itu merekapun terkantuk dan tidur.
 
"Nabi lalu bersembunyi di Gua Tsur bersama temannya, Abu Bakar. Nabi bersembunyi selama tiga malam dan keluar dari gua pada malam Senin," ungkapnya.  
Nabi melakukan perjalanan kembali menuju kota Yatsrib. Namun, ada seorang yang bernama Surokoh yang mengejar Nabi dan berniat akan membunuhnya. Sial, setelah dekat dengan Nabi kuda yang ditumpangi Surokoh tersungkur kaki depannya sehingga ia terjatuh lalu berteriak meminta tolong kepada Nabi dan Abu Bakar. 
 
"Seketika Nabi membantunya untuk berdiri. Kejadian ini berlangsung sampai tiga kali hingga akhirnya Surokoh masuk Islam karena semakin hatinya bahwa yang akan ia bunuh adalah benar-benar utusan Allah SWT," pungkasnya. 

Kontributor: Aisyah
Editor: Abdul Muiz
BNI Mobile