Para Remaja Harus Mengasah Rasa Malu

Para Remaja Harus Mengasah Rasa Malu
Suasana bimbingan kawin pra-nikah yang menyasar pelajar MAN 2 Pamekasan. (Foto: NU Online/Hairul Anam)
Suasana bimbingan kawin pra-nikah yang menyasar pelajar MAN 2 Pamekasan. (Foto: NU Online/Hairul Anam)

Pamekasan, NU Online

Perkataan maupun sikap yang mencerminkan rasa malu sekarang nyaris sulit mewarnai kehidupan para pelajar. Mereka kerap mengabaikannya. Padahal, rasa malu adalah bagian dari iman, ia salah satu karakter Rasulullah Saw.

 

Demikian ditegaskan Kepala Kantor Urusan Agama (Kankemenag) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Afandi di tengah-tengah acara bimbingan kawin (bimwin) pra-nikah di MAN 2 Pamekasan, Rabu (4/3). Kegiatan tersebut bagian dari rentetan acara Harlah NU ke-97.

 

"Barang siapa yang mengabaikan rasa malu, sudah barang tentu tidak meneladani Rasulullah. Karena itu, kita mesti mengasah rasa malu sepanjang waktu," tegas Afandi.

 

Cara mengasahnya, tambah Afandi, terbilang cukup mudah. Yakni, mengontrol ucapan dan mata.

 

"Setiap ucapan yang sekiranya menyinggung perasaan orang lain, jangan kita lontarkan. Termasuk status-status di media sosial yang kita miliki, wajib terhindar dari kata-kata provokatif dan tidak baik dibaca," tegasnya.

 

Sementara itu, menjaga tatapan mata juga bagian dari cara efektif mengasah rasa malu. Menurutnya, jangan sampai mata kita digunakan untuk melihat segala hal yang haram.

 

"Minimal saat kita berhadapan dengan lawan jenis, kita menundukkan mata. Jangan sampai digunakan untuk membangkitkan syahwat yang bisa menjerat masa depan kita," ucap Afandi.

 

Terkait dengan sifat pemalu Rasulullah, Afandi mengetengahkan cerita sahabat dalam Thabaqàt Ibn Sa'd yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari juz I halaman 368.

 

"Diriwayatkan bahwa Rasulullah lebih pemalu dibanding gadis pingitan. Jika tidak menyukai sesuatu, akan terlihat di wajahnya. Perilaku dan pergaulannya lemah lembut. Tak pernah berbicara tentang sesuatu yang tak disukai lawan bicara. Beliau adalah seorang pemalu dan berjiwa mulia," ungkapnya.

 

Rasa malu, tambahnya, sangat penting dikuasai oleh para remaja sebelum kelak menikmati mahligai cinta dalam pernikahan. Rasa malu pasti berujung pada kenikmatan.

 

"Kalaupun mau berpacaran, berpacaranlah setelah menikah. Jangan sebelum menikah, biar nikmatnya tidak terhingga," ujar Afandi yang disambut tepuk tangan para pelajar.

 

Kepada para pelajar, ia berpesan untuk fokus dan semangat belajar. Tidak perlu berpikir siapa jodohnya kelak.

 

"Urusan jodoh, Allah yang mengatur. Urusan belajar dan pintar, itu tergantung kita bagaimana mengaturnya," tukadnya.

 

Kontributor: Hairul Anam

Editor: Aryudi AR

BNI Mobile