Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Waketum PBNU Tidak Setuju Anggapan NU Tradisional dan Terbelakang

Waketum PBNU Tidak Setuju Anggapan NU Tradisional dan Terbelakang
Waketum PBNU HM Maksum Mahfoedz pada kunjungan mahasiswa Unsiq Wonosobo, Rabu (11/3). (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Waketum PBNU HM Maksum Mahfoedz pada kunjungan mahasiswa Unsiq Wonosobo, Rabu (11/3). (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Jakarta, NU Online
Mahasiswa dari jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo Jawa Tengah melakukan kunjungan ke Gedung PBNU Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (11/3).
 
Rombongan mahasiswa diterima Wakil Ketum PBNU HM Maksum Mahfoedz dan Pemimpin Redaksi NU Online, A Mukafi Niam, sesaat sebelum diskusi buku PBNU Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama.
 
Wakil Ketum PBNU H Maksum Mahfoedz menyampaikan pihaknya kurang sependapat dengan anggapan bahwa NU tradisional dan terbelakang. Pada faktanya, NU  dari masa ke masa melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Di bidang keilmuan, saat ini banyak tokoh dan ahli di berbagai bidang lahir dari kalangan NU.
 
Prof Maksum, demikian ia akrab disapa, memotivasi para mahasiswa untuk mengembangkan keilmuan mereka, agar menjadi orang yang ahli. Tetapi, di bidang apa pun kader NU berkarya, hendaknya tetap menjaga ajaran Aswaja Annahdliyah. Dalam perilaku di masyarakat, kader NU juga harus mengaplikasikan sikap moderat. 
 
Prof Makusm juga mengatakan bahwa NU menjadi besar karena partisipasi atau keterlibatan warganya. Karena itu, warga NU, tak terkecuali mahasiswa perlu menunjukkan partisipasinya dengan keaktifan berkiprah membangun NU.
 
"Mahasiswa juga harus tekun dengan keilmuannya," kata Prof Maksum.

Menjawab pertanyaan seorang peserta, Pemimpin Redaksi NU Online A Mukafi Niam mengatakan mahasiswa sebagai generasi muda dapat mengajak generasi muda lainnya untuk menyuarakan apa yang diajarkan NU. Dengan bahasa yang sesuai dengan usia mahasiswa, ajakan menyuarakan NU bisa dimulai dengan kebiasaan sehari-hari yang sederhana.

"Misalnya saat ada mahasiswa baru bisa diajak mengobrol, membantu mencari kos-kosan. Lama-lama akan terbangun kedekatan sehingga lebih mudah mengajak mahasiswa tersebut untuk membangun NU," katanya.

Niam juga menginformasikan bahwa NU Online sebagai media resmi PBNU, memberitakan kepentingan NU dalam konteks organisasi sosial keagamaan. Dalam suplei berita, NU Online memiliki para penulis di berbagai daerah, termasuk luar negeri. "Kekuatan kita adalah jaringan," ungkapnya.
 
Pihaknya menyilakan mahasiswa Unsiq yang memiliki hobi menulis atau ingin memberitakan kegiatan dan prestasi kampus, untuk mengirimkan tulisan opini maupun berita ke NU Online.
 
Dari sisi pemberitaan, kata Niam, NU Online tidak hanya memberitakan tentang kebijakan-kebijakan PBNU, namun juga kepedulian lingkungan, pendidikan, pengembangan ekonomi, termasuk prestasi-prestasi generasi muda NU. Tujuannya adalah agar NU Online dapat mendorong pengurus dan warga NU di daerah lain untuk juga berkarya dan berprestasi.
 
Salah satu contoh pemberitaan NU Online, sebut Niam, adalah gerakan kotak infak (Koin) NU. Saat awal gerakan Koin NU dimulai di Sragen, Jawa Tengah, NU Online memberitakannya dengan massif. Saat ini, Koin NU sudah tersebar ke hampir seluruh daerah, bahkan pengurus PBNU menggagas gerakan Koin Muktamar, tak lepas dari gerakan Koin NU yang dimulai di Sragen.

"Belum lama ini NU Online memuat cerita Ataka Ketua NU Inggris yang ahli di bidang robotika," sambungnya.
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad
 
BNI Mobile