HARLAH NU

'300 Hari di Bumi Syam' Dibedah Pelajar NU Bawang Batang

'300 Hari di Bumi Syam' Dibedah Pelajar NU Bawang Batang
Bedah buku '300 Hari di Bumi Syam' oleh pelajar NU Batang, Ahad (8/3). (Foto: Muhyi Brawijaya)
Bedah buku '300 Hari di Bumi Syam' oleh pelajar NU Batang, Ahad (8/3). (Foto: Muhyi Brawijaya)
Batang, NU Online
Dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-97 Nahdlatul Ulama versi Hijriah, PAC IPNU dan IPPNU Bawang Kabupaten Batang membedah buku 300 Hari di Bumi Syam karya Febri Rahmadhani .
 
Bedah buku diikuti ratusan peserta bertempat di Gedung Aswaja Center Kecamatan Bawang, Ahad (8/3 ).
 
Acara mendatangkan penulis Febri Rahmadani, dan para pembedah Boaz Simanjuntak, Nurul Mubin, dan Khaira Dina. Ketiga pembedah adalah juga para pemeran film Seeking the Imam. Sebelumnya film tersebut diputar dalam acara pembukaan.
 
Febri Ramdani, dalam buku 300 Hari di Bumi Syam menuliskan bahwa semua yang dikatakan ISIS adalah kebohongan. Soal janji hidup dalam hukum Islam dan balutan keagamaan, serta jaminan kehidupan dan pendidikan layak semuanya adalah kebohongan.
 
"“Saya menyaksikan sendiri, misil misil itu jatuh tak lebih dari jarak satu kilometerdari saya berdiri, asap pekat dan getarannya begitu terasa. Ini tidak sesuai ajaran Islam yang saya tahu," tutur Febri.
 
Sementara, Boaz Simanjuntak mengungkapkan pendapatnya perihal mantan teroris." Bagi saya mantan teroris itu tidak masalah, yang terpenting adalah kemanusiaan," ungkapnya. 
 
Boaz juga melanjutkan pendapatnya terkait pentingnya makna toleransi dan menghargai perbedaan. Baik perbedaan dalam agama, pemikiran ataupun ras serta suku.
 
"Bagi saya yang sering melawan pemikiran saya belum bisa dianggap keras, kecuali dia sudah berani datang ke Poso menghadapi segala kekerasan yang ada di sana," tambah Boaz yang juga aktivis dari Yayasan Prasasti Perdamaian.
 
Sebagai pembanding Nurul Mubin menekankan pada peserta jangan mudah terpancing dengan propaganda. Pemuda harus cerdas menyikapi setiap gejala yang terjadi di era milenial seperti sekarang ini.
 
"Siapa pun itu, walaupun lebih muda dari saya, jika ia sudah lebih memberikan manfaat dan menunjukan banyak kebaikan maka akan saya anggap sebagai guru," imbuhnya.
 
Ketua MWCNU Bawang KH Masykur mengatakan pentingnya diskusi keilmuan dan kesadaran literasi di kalangan pelajar NU. Hal itu perlu terus ditingkatkan karena melihat prospek yang baik kedepan dan efek positif bagi pemikiran pemuda masa depan dengan memahami budaya literasi.
 
Miftakhul Adib, Ketua PAC IPNU Bawang sangat mengharapkan dengan terselengaranya acara bedah buku ini menambah wawasan bersama tentang ISIS sebagaimana diceritakan penulis buku .
 
"Inilah salah satu pengetahuan yang sangat penting bagi kita sebagai gerbang NU yang harus kita pahami bersama," imbuhnya.
 
Ia mengatakan selain  bedah buku, juga diadakan beberapa kegiatan seperti lomba menyanyikan Mars IPNU-IPPNU, pentas drama, dan lainnya.
 
Kegiatan-kegiatan itu dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan, kreativitas, bakat pelajar. Lomba-lomba diikuti oleh puluhan pimpinan ranting, juga pimpinan komisariat (PK).
 
Kontributor: Muhyi Brawijaya
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile