Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Sholeh: Kader Penggerak Harus Bergerak, Tak Diam Saja

Kiai Sholeh: Kader Penggerak Harus Bergerak, Tak Diam Saja
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung KH Sholeh Baijuri. (Foto:NU Online/Faizin)
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung KH Sholeh Baijuri. (Foto:NU Online/Faizin)
Kalianda, NU Online
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung KH Sholeh Baijuri mengajak para kader NU yang sudah mengikuti pendidikan untuk menunjukkan kiprah militansinya, bergerak dan berkhidmah dengan kemampuan yang dimilikinya. Jangan sampai militansi yang sudah dibangun selama pendidikan kandas tak berbekas.
 
"Kader penggerak NU kalau sudah ikut pengkaderan kok diam saja, perlu dipertanyakan pendidikannya. Kader penggerak harus bergerak," tegasnya pada kegiatan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lampung Selatan, Jumat (13/3).
 
Kiai Sholeh yang pernah menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Lampung ini mengingatkan bahwa pengkaderan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas berjuang di Nahdlatul Ulama. Bukan kuantitas para kader yang menjadi tujuan, namun kualitas pergerakan yang ingin dicapai.
 
"Kader penggerak tujuannya bukan besar dalam jumlah, tapi besar dalam harakah (pergerakan)," tegasnya.
 
Adapun lahan yang bisa digarap oleh para penggerak di antaranya ada tiga, yakni himayatuddin (menjaga agama), himayatuddaulah (menjaga negara), dan himayatulummah (menjaga umat). Sebagai ormas terbesar di Indonesia, ia mengingatkan para kader agar tidak hanya bangga dengan jumlah.
 
"Banyak yang mengatakan kalau tidak ada NU Indonesia akan hancur. Ini bukan sebuah kebanggaan tapi sebuah kewajiban bagi kita warga NU untuk berkidmah," tegasnya.
 
Ia pun mengajak seluruh kader penggerak untuk memaksimalkan peran dengan memaksimalkan potensi yang ada untuk membesarkan dan menguatkan NU. Posisi kader di tengah masyarakat harus menjadi ladang khidmah dan mampu memberi manfaat bagi perkembangan jamiyyah.
 
Dengan mampu menunjukkan kiprah di NU, ia optimis para kader akan mendapatkan keberkahan dan rahmat. Pasalnya jamiyyah NU adalah organisasi yang didirikan oleh para wali dan sudah ditegaskan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asyari bahwa siapa yang mau mengurus dan menjaga NU maka akan diakui sebagai santrinya yang akan mendapatkan keberkahan dengan keluarganya.
 
Ia mengibaratkan hewan yang ikut bersama para ashabul kahfi saja bisa masuk surga karena taat dan berkhidmah kepada mereka, apalagi manusia yang mau berkhidmah dengan para ulama dan aulia melalui Nahdlatul Ulama.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile