Positif Corona, Seorang Ulama Iran Meninggal Dunia

Positif Corona, Seorang Ulama Iran Meninggal Dunia
Iran (14.991 kasus) merupakan negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak ketiga, setelah China (80.880 kasus) dan Italia (24.747 kasus). (Ilustrasi:Shutterstock)
Iran (14.991 kasus) merupakan negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak ketiga, setelah China (80.880 kasus) dan Italia (24.747 kasus). (Ilustrasi:Shutterstock)
Teheran, NU Online
Seorang ulama anggota Majelis Pakar, Ayatollah Hashem Bathayi Golpayegani, menghembuskan nafas terakhir akibat virus corona (Covid-19), Senin (16/3). Laki-laki berusia 78 tahun itu meninggal setelah dua hari lalu dinyatakan positif terkena virus corona. 

Seperti diberitakan kantor berita negara Iran, IRNA, dilansir Aljazeera, Senin (16/3), Golpayegani sempat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal. 

Golpayegani mewakili Teheran dalam Majelis Pakar. Majelis Pakar adalah sebuah badan ulama yang beranggotakan 88 orang yang bertugas menunjuk dan memantau Pemimpin Tertinggi Iran. 

Hingga hari Senin (16/3), ada 12 petinggi Iran, baik yang masih aktif atau pun tidak, yang telah meninggal dunia karena terpapar virus yang berasal dari Kota Wuhan, China itu. Di samping itu, ada 13 pejabat Iran yang terinfeksi virus corona dan saat ini masih menjalani perawatan.  

Sebelum Golpayegani, tangan kanan Pemimpin Agung Iran, Mohammad Mirmohammadi (71) juga meninggal dunia setelah dinyatakan positif virus corona. 

Data dari Worldometers menyebutkan, hingga Senin (16/3) malam, total ada 14.991 kasus infeksi virus corona yang terjadi di Iran, di mana korban meninggal mencapai 853 orang dan 4.590 pasien dinyatakan pulih.

Iran merupakan negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak ketiga, setelah China (80.880) dan Italia (24.747). Hingga hari ini Iran belum menerapkan lockdown, sebagaimana yang dilakukan China, Italia, dan beberapa negara lainnya. Namun demikian, Iran telah mengambil beberapa langkah untuk menghentikan penyebaran virus corona. Di antaranya menutup parlemen, menunda putaran kedua pemilihan legislatif, dan membatalkan Shalat Jumat di sejumlah kota besar.

Kemudian, Iran juga melarang kegiatan di sekolah dan universitas, mengurangi jam kerja, menangguhkan acara budaya dan olahraga, serta mendesak warganya agar tetap tinggal di dalam rumah. Bahkan sejumlah provinsi di Iran mengeluarkan instruksi agar hotel dan tempat wisata ditutup.

Pewarta: Muchlishon
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile