Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tanggapan Mahasiswa IAIN Jember soal Kuliah Online

Tanggapan Mahasiswa IAIN Jember soal Kuliah Online
ilustrasi
ilustrasi
Jember, NU Online
Sehari sejak dikeluarkannya surat edaran terkait perkuliahan online, Senin (16/3), IAIN Jember, Jawa Timur, mulai aktif melaksanakan perkuliahan sistem daring tersebut, Selasa (17/3).
 
Di IAIN Jember ada dua sistem perkuliahan online yang dilakukan. Keduanya adalah Sistem Informasi Akademik (Siakad) yang digunakan oleh mahasiswa semester 3 sampai 8; dan Sistem Informasi Terpadu (Sister) untuk mahasiswa semester 1.
 
Beragam tanggapan muncul dari para mahasiswa terkait perkuliahan sistem online. Mohammad Abdul Rauf, mahasiswa semester 8, mengatakan dirinya merasa biasa saja dengan perkuliahan online. Namun, dia tidak tahu bagaimana dengan mahasiswa lainnya. 
 
"Karena kita tidak tahu apa yang dilakukan oleh mahasiswa di luar sana. Bisa saja mereka mengikuti kuliah online sambil kumpul bareng (nongki) sama teman-temannya," kata Rauf.
 
Karena itu, dia mengatakan tidak bisa menjamin seratus persen adanya kuliah daring ini dapat mengurangi penyebaran virus Corona.
 
"Tetapi jika untuk antisipasi di lingkungan kampus itu sangat memungkinkan," ujarnya.
 
Meski mayoritas mahasiswa menyetujui diberlakukannya sistem perkuliahan online, ada beberapa mahasiswa yang mengeluhkan sistem tersebut.
 
Ketidaktersediaan kuota internet atau sulitnya jaringan internet, karena mereka harus mengakses internet dari rumah, menjadi salah satu kendalanya.
 
"Kalau soal kendala ya tidak punya paketan, tidak ada sinyal ataupun jaringan," kata Wildan Rofilil Anwar, mahasiswa semester 6. 
 
Namun, yang lebih harus menjadi evaluasi adalah peluang kejahatan intelektual mahasiswa. "Ketika dosen memberikan sebuah pertanyaan, kemudian mahasiswa hanya copy paste dari internet dan memasukkan jawaban ke dalam grup chat tersebut maka (terjadi) kejahatan intelektual dan akademisi akan semakin buruk di sana," kata dia.
 
Wildan juga mengatakan jika dikomparasikan antara kuliah online dan kuliah offline, sebenarnya sama saja.

"Menurut saya pribadi kuliah offline ataupun online sama saja. Tapi kalau kuliah online ada sesuatu yang berbeda, contohnya adalah ada sebuah kedekatan emosional dosen dan mahasiswa lewat chat. Karena kebanyakan dosen kan cuek ketika di-chat maupun ditanya. Tapi dengan adanya hal demikian (kuliah online), dosen sendiri bisa terbuka kepada mahasiswa meskipun lewat chat," beber Wildan.
 
Wildan juga mengatakan, mahasiswa memang harus menyesuaiakan era digital yang semakin canggih ini yaitu revolusi industri 4.0. Kuliah online, menurutnya sebagi keniscayaan di era digital. Ketika mahasiswa dan dunia kampus hanya berpacu dengan hal-hal lama yang itu-itu saja, akan tertinggal dari negara lain maupun kampus-kampus lain yang sudah menerapkannya lebih dulu.
 
Sementara itu, Kaprodi Hukum Pidana Islam Abdul Wahab mengatakan agar perkuliahan online berjalan dengan lancar mahasiswa harus memperhatikan intruksi dari masing-masing dosen.
 
"Karena ada berbagai macam cara, ya itulah perhatikan dengan seksama dan diikuti," katanya.
 
Ia juga memberikan tips kepada mahasiswa agar perkuliahan online tetap mengasyikkan. "Tipsnya ialah nikmati saja, jangan dianggap hal ini sebagai sesuatu tugas ekstra, tapi nikmati saja. Mahasiswa bisa mengerjakan tugasnya di rumah. Masuk kuliah tapi di tempat masing-masing malah justru enak ambil sisi positifnya, jangan dilihat sisi negatifnya," tambahnya.
 
Kontributor: Endang Agoestian
Editor: Kendi Setiawan
Posisi Bawah | Youtube NU Online