Cegah Covid-19, Ormas Islam Didorong Ikut Aktif Lakukan Pemantauan

Cegah Covid-19, Ormas Islam Didorong Ikut Aktif Lakukan Pemantauan
Ilustrasi. (NU Online)
Ilustrasi. (NU Online)
Jakarta, NU Online
Ketika wabah virus corona atau Covid-19 terus merebal dan telah banyak memakan korban jiwa, peran seluruh elemen masyarakat dibutuhkan dalam mencegah virus yang menyerang saluran pernapasan ini.

Menurut Pakar Epidemiologi, dr Syahrizal Syarif, ormas Islam selama ini cukup bagus dalam merespon wabah virus serupa SARS dan MERS ini. Namun perlu dikembangkan pada tahap pemantauan. Ikut aktif memantau kondisi dan perkembangan masyarakat.

Ia menegaskan, ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lain-lain mempunyai peran menyadarkan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah pencegahan secara medis, seperti memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, memakai hand sanitizer, menjaga jarak, membersihkan masjid-mushola, dan lain sebagainya.

“Selain itu, ikut aktif melakukan pemantauan situasi di masyarakat,” ujar Syahrizal beberapa waktu lalu di Jakarta.

Di NU sendiri, ia mengharapkan semua jajaran sampai ke tingkat desa, misal anggota Muslimat di sebuah desa melakukan pemantauan. “Anggotanya 100 orang misalnya, tidak ada salahnya pengurus Muslimat di tingkat desa itu, sederhananya membuat WA grup.

“Lalu setiap hari, cukup melaporkan keluarga yang dipantaunya. Misal masing-masing relawan mengawasi tiga keluarga. Dan melaporkan kondisi keluarga-keluarga tersebut setiap hari,” jelasnya.

Langkah seperti ini, menurutnya, bisa dilakukan setiap hari dan dipantau terus-menerus, paling tidak hingga lebaran tiba. Pemantauan-pemantauan ini juga bisa dilakukan di sekolah-sekolah ma’arif dan pesantren-pesantren. Salah satu pesantren bisa menjadi koordinator bagi tiga pesantren misalnya.

“Indikator yang paling sederhana demam. Meskipun tidak semua demam berarti terjangkit corona, tetapi demam bisa menjadi salah satu indikator pemantauan situasi di masyarakat,” terang Syahrizal.

Hingga Sabtu (21/3) kemarin seperti data yang dilansir Worldomaters, sudah terdapat 277.310 kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 di seluruh dunia.

Dari jumlah tersebut, 103.425 kasus sudah selesai dengan 91.994 (89 persen) di antaranya dinyatakan sembuh dan 11.431 (11 persen) selebihnya dikabarkan meninggal akibat virus tersebut.

Sementara itu, 173.885 orang  saat ini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Jumlah tersebut meliputi 165.972  (95 persen) orang yang mengalaminya dengan gejala ringan dan 7.913 (5 persen) lainnya tengah kritis.

Adapun di Indonesia, kasus yang sudah terkonfirmasi berjumlah 450. Hal itu sebagaimana diwartakan kawalcovid19.id. Jumlah tersebut meliputi 390 kasus masih menjalani perawatan, 20 kasus sudah dinyatakan sembuh, dan 38 lainnya meninggal.

Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan setiap harinya di Indonesia. Kasus pertama yang ditemukan pada Ahad (8/3) hanya berjumlah dua.

Namun, dua pekan setelahnya, saat ini sudah berjumlah 450 kasus. Artinya, ada lebih dari 200 kali lipat dalam dua pekan. Lonjakan terbesar terjadi pada Kamis (19/3) dengan 82 kasus baru dan Sabtu (21/3) dengan 81 kasus.

Jumlah 450 kasus yang sudah terkonfirmasi tersebut berada di 17 provinsi dari total 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Adapun rinciannya adalah 267 kasus di Jakarta, 55 kasus di Jawa Barat, 43 kasus di Banten, 26 kasus di Jawa Timur, 14 kasus di Jawa Tengah, 9 kasus di Kalimantan Timur, 5 kasus di DI Yogyakarta, 4 kasus di Kepulauan Riau, 3 kasus di Bali dan Sulawesi Tenggara, 2 kasus masing-masing di Kalimantan Barat; Kalimantan Tengah; Sulawesi Selatan; dan Sumatera Utara, serta 1 kasus di Lampung, Riau, dan Sulawesi Utara.

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon
BNI Mobile