Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Masyarakat Diminta Waspada Terhadap Perkembangan Informasi Palsu Terkait Corona

Masyarakat Diminta Waspada Terhadap Perkembangan Informasi Palsu Terkait Corona
Seorang anggota Banser menyemprotkan disinfektan di Kota Jayapura.
Seorang anggota Banser menyemprotkan disinfektan di Kota Jayapura.

Jakarta, NU Online

 

Maraknya wabah corona jenis Covid-19 di dunia, termasuk Indonesia, diiringi dengan meningkatnya peredaran informasi hoaks di tengah masyarakat tanah air. Merujuk data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) per hari Jumat tanggal 27 Maret 2020, terdapat 359 informasi hoaks yang beredar di media sosial yang berhasil tercatat.

 

Jenis hoaks yang tercatat tersebut beraneka ragam, mulai dari hoaks 'Megawari Sukarnoputri yang dituduh membiarkan virus corona menyebar', lalu 'tujuh ASN Pemprov Bali terkena Covid-19', lalu 'jenis virus baru yang muncul di Cina selain corona', dan lain sebagainya.

 

Sebaran ratusan informasi hoaks tersebut, oleh Akademisi Universitas Islam Negeri Jakarta Prof Siti Musdah Mulia dianggap bisa menyebabkan bertambahnya kegelisahan masyarakat dan melahirkan cara pandang yang keliru dalam melihat wabah corona itu sendiri.

 

Oleh karenanya ia mengajak agar masyarakat mawas diri atas merebaknya informasi salah terkait corona. “Mari kita semua menghindarkan diri dari menyebarkan berita hoaks atau berita palsu,” ujar Prof Siti Musdah Mulia di Jakarta, Jumat (27/3).

 

Ia mengaku sedih atas banyaknya informasi hoaks yang masih menyebarkan dalam kondisi seperti ini. Sebab informasi tersebut berbuntut pada pemahaman yang keliru terhadap wabah ini. Sehingga sebagian orang enggan melakukan ikhtiyar untuk menghindarkan diri dari wabah ini, karena menganggap wabah dan dampaknya tersebut sebagai takdir Tuhan tanpa melihat peluang untuk menghindarinya.

 

Padahal menurutnya, pemahaman yang demikian itu keliru. Allah memerintahkan umat manusia untuk menjaga kehidupan dan kesehatannya. Allah, lanjutnya, sudah menyatakan bawa Ia hanya akan mengubah nasib seseorang atau sekelompok masyarakat kalau mereka mengubah perilakunya sendiri.

 

“Jadi jangan selamanya beranggapan ‘Ah terserah Tuhan saja’ tidak bisa seperti itu, Ini yang banyak orang salah paham. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ‘corona ini juga ciptaan Tuhan’, iya memang ciptaan Tuhan tetapi kita sebagai manusia juga harus bisa menggunakan akal pikiran untuk menjauhi musibah itu,” tutur Musdah

 

Untuk itulah Musdah mengingatkan pentingnya sama membangun solidaritas untuk menguatkan satu sama lain untuk saling menguatkan sebagai sebuah masyarakat. Kekuatan dalam masyarakat, menurutnya, merupakan salah satu kunci utama melewati wabah corona ini.

 

Solidaritas ini, lanjutnya, dalam bentuk yang sangat nyata bisa diwujudkan untuk saling membantu antara anggota masyarakat. “Dan ketika kita tahu misalnya ada tetangga kita yang buruh harian yang kalau tidak bekerja maka dia tidak mendapatkan uang, kita harus berbagi jika kita punya makanan lebih. Jadi solidaritas itu bentuknya banyak. Ada orang yang tidak mampu kita bantu. Jadi buat saya solidaritas itu harus diperkuat di tengah tengah kondisi pandemic seperti ini,” tuturnya.

 

Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi di masyarakat terkait virus ini sendiri dan cara melakukan social atau physical distancing. Edukasi tersebut, kata Musdah, bisa sebaiknya disampaikan dalam platform yang menarik, misalnya berbentuk gambar ataupun video yang menggambarkan bahayanya virus corona tersebut sehingga perlu melakukan gerakan social atau physical distancing.

 

Ia menjelaskan pentingnya melakukan social atau physical distancing ini agar mengurangi tingkat penyebaran virus. Di saat seperti ini, katanya, diperlukan solidaritas tinggi agar semua anggota masyarakat saling menjaga satu sama lain.

 

Kampanye social atau physical distancing akan lebih efektif apabila dilakukan oleh seseorang yang memiliki pengaruh besar di masyarakat Indonesia.

 

“Karena itu diperlukan tokoh atau ‘influencer’, yang bisa mempengaruhi kelompoknya. Jadi harus bisa memberikan contoh konkrit yang dia bicarakan dan dia juga praktekkan. Misalnya dengan mengatakan ‘demi menjaga situasi menjadi lebih kondusif saya tidak ke mana-mana, saya tetap di rumah’. Jadi ya dia tinggal di rumah tidak keluyuran di luar,” pungkasnya.

 

Editor: Ahmad Rozali

BNI Mobile