Salah Kaprah Penyemprotan Disinfektan di Tengah Pandemi Corona

Salah Kaprah Penyemprotan Disinfektan di Tengah Pandemi Corona
Penyemprotan disinfektan kepada WNI yang berhasil dipulangkan dari Wuhan awal Februari 2020 lalu. Belakangan praktisi kesehatan mengkritisi penyemprotan disinfektan ke tubuh manusia yang dinilainya justru membahayakan. (Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri RI)
Penyemprotan disinfektan kepada WNI yang berhasil dipulangkan dari Wuhan awal Februari 2020 lalu. Belakangan praktisi kesehatan mengkritisi penyemprotan disinfektan ke tubuh manusia yang dinilainya justru membahayakan. (Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri RI)
Jakarta, NU Online
Cairan disinfektan diyakini mampu membunuh virus corona (Covid-19). Penyemprotan disinfektan oleh petugas kepada ratusan WNI yang baru dipulangkan dari Wuhan, China pada awal Februari 2020 lalu diikuti oleh masyarakat. Bahkan, warga berusaha membuatnya secara mandiri dengan bahan-bahan cair pembunuh kuman yang tersedia di pasaran.

Belakangan beberapa praktisi kesehatan mengoreksi bahwa cairan disinfektan tidak boleh disemprotkan ke tubuh manusia karena berbahaya. Termasuk pembuatan bilik disinfektan yang dikembangkan banyak kalangan untuk menyemprot tubuh manusia. Disinfektan hanya boleh disemprotkan ke benda-benda mati.

Cairan disinfektan yang diracik oleh masyarakat secara mandiri dengan bahan-bahan cair pembunuh kuman bisa menyebabkan infeksi kulit, saluran pernafasan, batuk, dan gatal-gatal.

Sudut pandang lain dijelaskan Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, dr Syahrizal Syarif yang menilai bahwa penggunaan atau penyemprotan cairan disinfektan oleh berbagai kalangan selama ini salah kaprah dan mubazir.

“Mestinya yang disemprot khusus benda-benda yang selama ini punya banyak kontak dengan manusia. Kalau di ruang publik, yang disemprot itu kursi, halte-halte, ruang tunggu, mushola, masjid, handle pintu, termasuk angkutan-angkutan umum. Kalau jalanan disemprot, taman disemprot, pohon-pohon disemprot, apalagi nyemprotnya sampai ke atas-atas, itu mubazir,” jelas Syahrizal beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pria yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Kesehatan itu menerangkan, virus corona tidak ditularkan melalui udara. Jika virus itu keluar dari bersin atau batuk seseorang, ia tidak bertahan di udara, melainkan jatuh pada benda-benda dan akan hidup selama 3 jam. Itulah pentingnya memakai masker, hand sanitizer, dan cuci tangan pakai sabun.

Syahrizal Syarif menjelaskan, penularan virus corona (Covid-19) terjadi saat orang sakit bersin atau batuk. Karena bersama bersin dan batuk itu mengeluarkan partikel virus dalam bentuk percikan (droplet).

“Jika orang sehat berada dalam jarak kurang dari 1 meter, maka dia dapat menghirup partikel tersebut dan menjadi sakit. Ini pentingnya menjaga jarak,” jelas Syahrizal beberapa waktu lalu di Jakarta. Ia menegaskan bahwa orang sakit harus memakai masker.

Namun, untuk mengantisipasi jika orang yang sakit tidak memakai masker, maka orang sehat pun perlu memakainya dalam kondisi merebaknya virus corona.

Virus corona juga akan menular jika orang sehat memegang benda-benda yang telah terkontaminasi partikel yang keluar melalui bersin dan batuk orang yang sakit.

Misalnya, orang sakit bersin dan bersinnya mengenai meja. Jika orang lain memegang meja lalu tangannya mengucek mata atau memegang hidung dan mulut, maka partikel virus dapat masuk melalui hidung dan mata serta mulut.

"Di sini peran cuci tangan pakai sabun dapat mencegah penularan. Hand sanitizer dapat digunakan tapi tak perlu berlebihan," kata pria yang pernah menjadi Tim Pakar Nasional Epidemiologi dalam kajian virus SARS di China pada 2003 silam ini.

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon
BNI Mobile