Kader IPNU Batang Tulis Syair Munajat Covid-19

Kader IPNU Batang Tulis Syair Munajat Covid-19
Pengasuh Pesantren Nurul Ibad, Jakarta Timur, KH Ibnu Mulkan (kiri) memperhatikan teks syair terkait Covid-19 yang ditulis oleh kader IPNU, Rahman Jaya (kanan). (Foto: istimewa)
Pengasuh Pesantren Nurul Ibad, Jakarta Timur, KH Ibnu Mulkan (kiri) memperhatikan teks syair terkait Covid-19 yang ditulis oleh kader IPNU, Rahman Jaya (kanan). (Foto: istimewa)
Jakarta, NU Online
Seorang kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) asal Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengisi masa karantina dengan membuat syair munajat terkait virus Covid-19.
 
Rahman Jaya, kini berkegiatan di Jakarta, di mana disebut sebagai tempat paling banyak ditemukannya kasus Covid-19 di Indonesia. Hal itulah yang membuatnya terinspirasi dan berkreasi dalam masa 'karantina' dirinya.
 
Menurut Rahman, awalnya ia tidak sengaja membuat syair tersebut. Bisa jadi, itu karena efek kesendirianya di Pondok Pesantren Nurul Ibad di Lubang Buaya, Jakarta Timur, tempat ia mengajar dan mengabdi.
 
Suasana sendiri karena semua santri dipulangkan ke rumah masing-masing, sekaligus memikirkan masyarakat yang resah terdampak Covid-19, membuatnya prihatin dan seperti tiba-tiba datang ide kata-kata menjadi syair tersebut.
 
"Ketika saya melantunkan syair Al-I’tiraf Abu Nawas, tidak sengaja tiba-tiba muncul pikiran ke Corona. Maka saya coba sedikit demi sedikit merangkai kata demi kata dan terciptalah syair tersebut," katanya.
 
Setelah syair yang ditulis dalam bahasa Jawa itu selesai, langsung dia bagikan ke beberapa orang, termasuk para senior dan para kiai, baik yang ada di kampung halaman maupun di  sekitar Jabodetabek.
 
"Allhamdulillah diapresiasi dengan baik dan diridhai," ungkapnya.
 
KH Ibnu Mulkan, Pengasuh Pesantren Nurul Ibad, salah satunya, sangat mengapreasikan syair karangan pengajar di pesantrennya.
 
"Walapun saya tidak terlalu paham bahasa Jawa, tapi saat diterjemahkan ke bahasa Indonesia, liriknya sangat bagus dan menyentuh," katanya.

Menurutnya, lirik syair ini berisi ajakan kepada masyarakat untuk berjuang bersama-sama melawan wabah virus Corona. 
 
"Dan juga sebagai kesadaran kita untuk selalu bersyukur terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sekaligus doa semoga Covid-19 ini segera selesai di tanah air kita Indonesia dan seluruh dunia," harap Kiai Mulkan. 
 
Penasaran dengan syarinya? Bagian awal syair dan nadanya sama seperti Syair Abu Nawas yang biasa dikenal Al-I’tiraf (Sebuah Pengakuan).
 
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaa, wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii, fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
 
Ya Allah Gusti kulo mboten ahline suwargo
Anging kulo mboten kiat ing neroko
Mugi tampi tobat lan ngapuro duso kulo
Krono Panjengan dzat ngapuro
 
Wabah seng podo lagi di alami kabeh negara
wabah iki yo namane virus corona
Indonesia negaro kita yang tercinta
virus iku wes nyebar mareng nusantara
 
Ora ibu kota, ora neng desa wes podo waspada
 ayo doa sareng sareng ben ilang segera
Yo ikuti intrusine pemerintah
yo ger umah kanggo cegah nyebare  wabah
 
Ulama kabeh lewat dungo ing ikhtiar
poro dokter ugo berjuang ben ora nyebar
Kito kabeh berjuanglah sama-sama
manut mareng pituture  umaro lan ulama
 
Kabeh ibadahe di utamake neng umahe dewe-dewe
ayo temenke  ibadahe shalat lan ngajine
Ya Allah Gusti iki wabah  enggal-enggal lungo
kita kabeh nyuwun ngapunten ing lepat lan duso
 
Iki kabeh kanggo ngeleng ake kito sedoyo
mareng gusti allah ingkang agung lan maha kuoso
Kito kabeh kadang ngeluh ing cobaane
tapi kito kabeh sering  lali ing nikmate.
 
Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut
 
Ya Allah hamba bukanlah ahli surga. Akan tetapi hamba tak kuat  masuk neraka. Terimalah tobat dan ampuni dosa hamba. Engkaulah Dzat pemberi ampunan yang besar
 
Wabah yang sama dirasakan semua negara. Wabah ini namanya virus Corona. Indonesia negara kita tercinta. Virus itu sudah menyebar di Nusantara
 
Tidak hanya ibu kota di desa-desa pun sudah waspada. Mari kita doa bersama biar hilang segera. Mari ikuti intruksi pemerintah untuk di rumah saja biar tak semakin menyebar
 
Ulama semua berikhtiar lewat doa para dokter medis juga berjuang biar tak semakin menyebar. Ayo kita semua berjuanglah sama-sama mengikuti tutur kata umara/pemerintah dan ulama
 
Semua ibadah lebih utama di rumah masing-masing, mari kita giatkan lagi ibadah shalat dan ngajinya. Ya Allah semoga wabah ini cepat-cepat pergi. Kita semua mohon ampunan-Mu dari kesalahan dan dosa
 
Ini semua buat mengingatkan kita kepada Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Kita semua kadang mengeluh dengan cobaan yang diberikan, akan tetapi kita semua sering lupa dengan nikmat yang di berikannya.
 
KH Maftukhin, sesepuh NU Desa Sidorejo yang dimintai ridha dan agar memberikan judul syair tersebut, mengatakan tidak usah diberi judul.
 
"Ini adalah salah satu munajat kepada Allah untuk wabah virus Corona ini lewat syiir dengan bahasa Jawa," kata Kiai Maftukhin.
 
Terkait dengan syairnya, Rahman berharap, "Semoga syair ini bisa dijadikan munajat atau shalawatan diri sendiri maupun di masjid mushala desa selama wabah berlangsung, pada waktu menjelang Maghrib dan Subuh."
 
 
Kontributor: Hafedz Maschun
Editor: Kendi Setiawan 

 
BNI Mobile