Gus Yusuf: Menghadapi Wabah Covid-19 Harus dengan Sabar dan Tenang

Gus Yusuf: Menghadapi Wabah Covid-19 Harus dengan Sabar dan Tenang
Pengasuh Pesantren Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). (Foto:Istimewa)
Pengasuh Pesantren Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). (Foto:Istimewa)
Magelang, NU Online
Suatu hari hiduplah seorang waliyullah yang mukasyafah, memiliki kelebihan bisa melihat dan berbicara dengan sesuatu yang manusia biasa tidak bisa melakukannya. Ia bertemu dengan rombongan wabah penyakit yang sedang menuju ke suatu tempat.
 
Sang wali pun bertanya kepada wabah penyakit itu hendak ke mana mereka berduyun-duyun pergi. Wabah penyakit pun menjawab jika mereka akan pergi ke Kota Damaskus untuk memberikan ujian dengan menjangkiti penduduk di sana.
 
"Akan berapa lama kamu di sana?," tanya sang Wali. "Dua tahun," jawab wabah penyakit. "Berapa banyak yang akan sakit dan meninggal?," tanya lagi sang Wali. "1000 orang," jawab wabah sambil berlalu pergi ke Damaskus.
 
Tak beberapa lama, benarlah terjadi warga penduduk Damaskus terkena wabah penyakit yang mengakibatkan banyak warga penduduk sakit dan meninggal. 
 
Setelah dua tahun berlalu, bertemulah kembali sang wali dengan wabah penyakit dan bertanya berapa banyak orang yang meninggal. Wabah penyakit pun menjawab jika orang yang meninggal karena penyakit sebanyak 50.000 orang. Sang wali pun kaget kenapa korban meninggal lebih banyak dari yang direncanakan.
 
"Ya benar. Yang meninggal karena penyakit itu 1000 orang tapi sisanya itu karena ketakutan melihat penyakit, lihat orang sakit, orang mati, mereka pada panik akhirnya mati," kata wabah.
 
Inilah sekilas kisah yang disampaikan KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) Pengasuh Pesantren Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah terkait wabah penyakit seperti yang terjadi saat ini di berbagai belahan dunia yakni virus Corona. Kisah ini termaktub dalam Kitab Hilyatul Aulia karya Abu Nu'aim Ashfani.
 
Gus Yusuf mengutip maqalah Ibnu Sina: Al wahmu nisfu da' (kegelisahan dan kepanikan adalah separuh daripada penyakit). Sementara ketenangan dalam menghadapi penyakit atau masalah merupakan separuh dari obatnya.
 
"Wa sabru bidayatus syifa, kesabaran, keikhlasan kita menghadapi masalah ini adalah awal dari kesembuhan," jelasnya melalui video yang diunggah di akun Facebooknya, Kamis (2/4).
 
Oleh karenanya Gus Yusuf mengingatkan kembali bahwa tenang dan sabar menjadi kunci untuk menghadapi kondisi wabah penyakit seperti pandemi Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) yang saat ini melanda dunia termasuk Indonesia.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile