Pandemi Corona, Pesantren Darul Ma'wa Demak Imbau Warga Ikuti dan Patuhi Pemerintah

Pandemi Corona, Pesantren Darul Ma'wa Demak Imbau Warga Ikuti dan Patuhi Pemerintah
Pengasuh Pesantren Darul Ma'wa, Mranggen, Demak, Jateng KH Abdul Hadi Muthohar (Foto: Fifqi Hidayat)
Pengasuh Pesantren Darul Ma'wa, Mranggen, Demak, Jateng KH Abdul Hadi Muthohar (Foto: Fifqi Hidayat)
Demak, NU Online 
Corona Virus Disease atau Covid-19 merupakan jenis virus yang baru. Kemunculannya tak hanya menjadi wabah di suatu daerah, namun secara global menjadi pandemi. Karena itu, kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (RI) harus diperhatikan. 
 
Hal ini dikatakan Pengasuh Pesantren Darul Ma'wa Mranggen Demak, Jawa Tengah, KH Abdul Hadi Muthohar. "Kita tidak paham, yang paham tentang virus ya para ahli kesehatan dan ahli virus. Lebih baik ikuti dan patuhi imbauan pemerintah," kata Abah Hadi, sapaannya, Rabu (1/4).
 
Pemerintah lanjutnya, mengeluarkan kebijakan ini (social distancing dan sebagainya, red) tentu telah sesuai kajian para dokter dan juga dampak yang ditimbulkan dari penyebarannya.
 
"Karena itu di sini (PP Darul Ma'wa) juga telah menerapkan protokol kesehatan," ungkapnya.
 
Dijelaskan, pesantren melakukan penyemprotan disinfektan secara mandiri, pada setiap kamar mandi dan tempat wudlu telah disediakan sabun antiseptik, dan gel pembersih tangan (hand sanitizer) di ruas-ruas tertentu agar para santri yang masih ada dapat memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai kerangka aman mencegah virus Corona. Selain itu, para santri yang meminta izin pulang harus dijemput oleh keluarga.

"Akhirussanah di sini 2 tahun sekali, untuk tahun ini memang kebetulan tidak ada akhirusanah," ungkap guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini.
 
PP Darul Ma'wa merupakan bagian dari PP Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak. Pada masa KH Ahmad Muthohar sebagai pengasuh utama, Darul Ma'wa masih sebatas Kompleks Futuhiyyah Ndalem Mbah Mad (KH Ahmad Muthohar, red). 
 
Dalam perkembangannya setelah berpulangnya Mbah Mad menjadi pesantren sendiri. 
Secara umum, pengajian rutin pembinaan thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah dilakukan para Mursyid dan Khalifah secara bersama di Masjid An-Nur Futuhiyyah. 
 
Kegiatan ngaji pengasuh pesantren di kediaman yang biasa dilakukan secara terbuka juga beralih secara online untuk menjaga para jamaah maupun dari wabah Corona.
 
"Ngaji thariqah tiap Senin dan Kamis sudah libur, ngaji diniyah santri juga sudah libur, tinggal ngaji ini yang bukan diniyah klasikal diganti secara online, sama seperti ngaji ihya, lewat youtube," tuturnya.
 
Selain itu, Mursyid Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah ini juga masih rekaman untuk radio Dakwah Islam (Dais) Masjid Agung Jawa Tengah, mengisi konten youtube dengan mengaji kitab Ihya Ulumuddin dan mengisi kuliah langsung dengan mahasiswa secara online.

Kontributor: Ahmad Rifqi Hidayat
Editor: Abdul Muiz
BNI Mobile