Cerita Dapat Lukisan Gus Mus dan Blangkon Gus Ulil

Cerita Dapat Lukisan Gus Mus dan Blangkon Gus Ulil
Ienas Tsuroiya bersama KH Ahmad Mustofa Bisri (Foto: istimewa).
Ienas Tsuroiya bersama KH Ahmad Mustofa Bisri (Foto: istimewa).
Jakarta, NU Online
Sudah sejak lama Robbi Faqqi mengidolakan KH Ahmad Mustofa Bisri. Ceramahnya yang menyejukkan adalah salah satu alasannya mengaguminya.
Tak ayal, saat Ienas Tsuroiya membuka lelang kaligrafi karya ayahnya, pemilik kafe Maqha di Kudus itu langsung turut ambil bagian. Beruntungnya, ia menjadi penawar tertinggi setelah waktu lelang ditutup.
 
Tentu saja hal tersebut membuatnya begitu gembira karena selama ini begitu mendambanya. Terlebih ia meyakini betul lukisan yang dibuat oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang itu pasti memiliki makna khusus.
 
"Senang, bahagia karena lukisan Gus Mus punya arti sendiri setiap lukisan yang dibuat," katanya pada Sabtu (3/4).
 
Di samping itu, keikutsertaannya dalam lelang tersebut juga didorong dengan keinginannya mendapat berkah mengingat hasilnya yang menjadi donasi untuk penanganan wabah pandemi Covid-19. "Mendapat barokah karena untuk bantuan diadakan lelang," katanya.
 
Blangkon Gus Ulil yang Tela Lama Didamba
Senada dengan Faqqi, Agus Zen Muttaqin juga sudah sedari lama berharap dapat mengalap berkah blangkon Gus Ulil Abshar Abdalla. Bahkan, sejak beberapa bulan lalu, ia sengaja menyebut Ienas di laman medsos untuk mendapatkan blangkon yang kerap dikenakan Gus Ulil saat menyampaikan pengajian Ihya Ulumiddin.
 
Tak ayal, saat Ienas membuka lelang blangkon Gus Ulil, ia langsung turut berlomba memberikan penawaran tertinggi. "Akhirnya ada kesempatan untuk mendapatkan melalui lelang dalam rangka donasi untuk penanganan Covid-19," katanya.
 
Tentu saja rasa gembiranya tak bisa ia tutupi. Hal yang selama ini ia harap-harapkan dapat terkabulkan.
 
"Mendapatkan blangkon pak Lurah Pondok Ngaji Ihya adalah suatu kebahagiaan karena sudah lama menginginkannya," ujarnya.
 
Bahkan, keinginannya yang membuncah itu sampai-sampai membuatnya turut dalam lelang dua blangkon Gus Ulil. Namun, dengan membuang egoismenya, ia merelakan melepas salah satunya. Meski demikian, ia hampir saja kehilangan semuanya karena pada tawaran yang tak dilepas, penawarannya kalah tinggi. Sementara itu, pada blangkon lainnya ia menjadi penawar tertinggi tetapi sudah dilepasnya.
 
Pada akhirnya, ia bisa mengambil nafas panjang karena Ienas memberinya hak untuk memperoleh hal yang amat didambakannya itu.
 
Di samping itu, ia yang juga bekerja di produsen alat-alat kesehatan mengetahui betul kesulitan para tenaga kesehatan mendapatkan peralatannya. Dengan mengikuti lelang, ia dapat turut membantu mereka untuk berupaya menyelamatkan pasien yang positif Corona.
 
"Faktor pendorong adalah mencari jalur untuk donasi dalam rangka membantu para nakes (tenaga kesehatan) dalam menyembuhkan pasien yang terpapar Covid-19. Saya juga sangat terbayang, karena saya bekerja di provider alkes (alat kesehatan) untuk cuci darah, kebetulan ada beberapa pasien Covid-19 yang perlu tindakan terapi cuci darah saat bersamaan," katanya.
 
Pria asal Bekasi, Jawa Barat itu mengaku sangat mengidolakan Gus Ulil karena bahasa penyampaian ceramahnya mudah dicerna olehnya dengan sumber-sumber rujukan yang jelas.
 
"Dari keilmuan Pak Kiai Ulil yang lebih mengetengahkan kemoderenan Islam dengan literasi yang lengkap, dengan sanad keilmuan dari para masyayikh NU dan muasis NU sampai pada Rasulullah," pungkasnya.
 
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile