Cegah Covid-19, Pesantren Nurussalam Ambulu Jember ‘Karyakan’ Santrinya

Cegah Covid-19, Pesantren Nurussalam Ambulu Jember ‘Karyakan’ Santrinya
Pengasuh Pesantren Nurussalam yang juga Rais Syuriyah MWCNU Ambulu, Jember, KH Ali Muthohar Mu’thi (sebelah kiri) saat memimpin doa untuk tamunya (H Marsuki Abd. Gofur) terkait Covid-19. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Pengasuh Pesantren Nurussalam yang juga Rais Syuriyah MWCNU Ambulu, Jember, KH Ali Muthohar Mu’thi (sebelah kiri) saat memimpin doa untuk tamunya (H Marsuki Abd. Gofur) terkait Covid-19. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online

Pondok Pesantren Nurussalam, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mempunyai cara tersendiri untuk mencegah Covid-19 agar tidak menempel para santrinya. Yaitu dengan cara mengkaryakan mereka.

 

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Nurussalam, KH Ali Muthohar Mu’thi, hingga saat ini sebagian santrinya yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Cilacap, dan Kebumen memang masih kerasan di pesantren. Tidak pulang. Sehingga mereka masih menjadi tanggung jawab lembaga dalam menghadapi Covid-19.

 

“Mereka tetap mengaji kitab sebagaimana biasa, namun tetap mengikuti arahan pemerintah,” ujarnya kepada NU Online di kediamannya, Senin (6/4).

 

Rais Syuriyah MWCNU Ambulu itu menegaskan bahwa untuk menjaga santrinya agar tidak terpapar dari Covid-19, selain ‘mengekang’ mereka di pesantren, juga setiap hari dijemur di sinar matahari. Namun bukan semata-mata dijemur, tapi dipekerjakan di lingkungan pesantren yang cukup luas itu, mulai dari bersih-bersih halaman, hingga menyabit rumput untuk pakan sapi.

 

“Intinya, jangan sampai santri saya di pagi hari mulai pukul 8.00 hingga 10.00, hanya diam di bilik. Harus keluar kamar agar kena sinar matahari,” ucapnya.

 

Kiai Ali Muthohar, termasuk pengasuh pesantren yang cukup hati-hati dalam menyikapi Covid-19. Sejak pemerintah mengumumkan libur sekolah akibat Covid-19, ia langsung mengambil kebijakan yang sama, yakni meliburkan sekolah, baik yang formal maupun non formal, mulai dari TK, MI, SMP, hingga SMK.

 

“Bukan apa-apa, pemerintah tentu sudah mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum memutuskan itu, sehingga kami juga harus patuh,” jelasnya.

 

Kiai Ali Muthohar lalu memulangkan santrinya yang berjumlah 300 orang lebih itu. Bagi santri yang dekat dengan pesantren, dijemput oleh orang tuanya. Sedangkan bagi yang rumahnya jauh, disediakan kendaraan untuk diantar pulang sampai ke rumahnya.

 

“Nah, santri yang dari jauh sekali seperti Kalimanan, Sulawesi, memang masih di sini (pesantren),” jelasnya.

 

Bagi Kiai Ali Muthohar, Covid-19 tidak perlu disikapi dengan kepanikan, meskipun tak boleh diremehkan juga. Yang penting, manusia harus berikhtiar untuk menjaga diri dari penularan virus yang mematikan itu.

 

“Islam mengajarkan kita untuk selalu berikhtiar. Menjaga kesehatan, menjaga kebersihan, itu ‘kan ikhtiar,” ungkapnya.

 

Di tempat yang sama, salah seorang tokh NU asal Kencong, Jember, H Marsuki Abd. Gofur memberikan dorongan agar pesantren tidak vakum dari kegiatan. Sebab, pembinaan generasi muda harus tetap jalan, tidak boleh stagnan dalam kondisi apapun.

 

“Tentu semuanya harus sesuai dengan arahan pemerintah. Tapi intinya pembinaan generasi muda tidak boleh berhenti, karena mereka adalah masa depan bangsa,” jelasnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile