IMG-LOGO
Internasional

Tak Dimandikan, Jenazah Muslim Korban Covid-19 di AS Disucikan dengan Tayamum

Kamis 9 April 2020 01:00 WIB
Tak Dimandikan, Jenazah Muslim Korban Covid-19 di AS Disucikan dengan Tayamum
(Foto: middleeasteye)
Washington, NU Online
Virus corona (Covid-19) telah mengubah cara Muslim Amerika Serikat (AS) dalam mengurus pemulasaran jenazah. Ulama dan imam di AS bahkan mengeluarkan panduan baru terkait dengan proses pemulasaran dan pemakaman jenazah korban Covid-19 yang beragama Islam.

Sesuai panduan itu, tidak diperlukan lagi penggunaan air untuk menyucikan jenazah Muslim korban virus corona (Covid-19). Karena jika jenazah tetap dimandikan, air bekasnya akan membawa virus dan menularkannya kepada yang lainnya. Oleh karena itu, penyucian jenazah Muslim yang positif Covid-19  dilakukan dengan tayamum. 

"Kami mengganti prosedur memandikan jenazah dengan air menjadi penyucian jenazah dengan tayamum," kata Nasir Saleh, salah seorang petugas Layanan Jenazah al-Firdaus, sebuah layanan pemakaman Muslim di Lorton, Virginia, AS, sebagaimana diberitakan Middle East Eye, Senin (6/4).

Akan tetapi, lanjut Saleh, penyucian dengan tayamum tidak dilakukan secara langsung di tubuh jenazah. Pihaknya membungkus jenazah dengan kantung khusus, baru kemudian dilakukan tayamum di atasnya.

"Kami menggunakan kantung jenazah untuk menutup tubuh korban dan melakukan proses tayamum di atasnya," lanjutnya.  
 
Dekan Bagian Akademik di Institut al-Maghrib, Texas, AS, Yasir Qadhi, secara standar jenazah masih harus dimandikan jika prosedur pencegahannya dari pemerintah AS diikuti. Namun, jika ada bahaya atau keraguan yang bisa membahayakan kesehatan orang di sekitarnya, maka jenazah bisa disucikan dengan metode tayamum. Yaitu, dengan cara mengusapkan debu pada wajah dan tangan jenazah yang sudah dibungkus.

Muslim AS juga mengurangi kehadiran selama proses pemakaman. Hal ini dikarenakan pemerintah AS menerapkan kebijakan pembatasan sosial (social distancing), di mana pertemuan lebih dari 10 orang tidak diperkenankan. Bahkan di Virginia, Staf Pemakaman telah membatasi orang yang hadir di pemakaman maksimal hanya empat orang. Hal itu tentu saja menyulitkan anggota keluarga jenazah yang hendak ikut hadir di pemakaman.

Terkait dengan persoalan itu, Dewan Fikih Amerika Utara mengizinkan pemakaman disiarkan secara daring. Sehingga, keluarga yang tidak bisa datang ke pemakaman bisa melihatnya dari rumah. 

Merujuk data Worldometers, saat ini AS merupakan negara dengan jumlah kasus virus corona tertinggi di dunia, yaitu 404.056 kasus (12.988 meninggal dan 21.815 sembuh).

Pewarta: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG