Bangladesh 'Lockdown' Pengungsian Rohingya untuk Cegah Corona

Selama masa lockdown, pihak keamanan Bangladesh berpatroli di dalam dan di sekitar kamp-kamp pengungsian Rohingya. (Foto: NU Online/Muchlishon)
Selama masa lockdown, pihak keamanan Bangladesh berpatroli di dalam dan di sekitar kamp-kamp pengungsian Rohingya. (Foto: NU Online/Muchlishon)
Selama masa lockdown, pihak keamanan Bangladesh berpatroli di dalam dan di sekitar kamp-kamp pengungsian Rohingya. (Foto: NU Online/Muchlishon)
Cox’s Bazar, NU Online
Pemerintah Bangladesh memberlakukan kunci wilayah (lockdown) di distrik Cox’s Bazar, wilayah yang berdekatan dengan kamp pengungsian Rohingya, sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). Kamp-kamp pengungsia Rohingya berada di beberapa wilayah di distrik Cox’s Bazar seperti Kutupalong, Jamtoli, dan lainnya. 

Lockdown di Cox’s Bazar dimulai sejak Kamis (9/4) kemarin. Selama masa lockdown, pihak keamanan Bangladesh berpatroli di dalam dan di sekitar kamp-kamp pengungsian Rohingya. Mereka juga membatasi gerak orang-orang yang memberikan bantuan kepada pengungsi Rohingya.

"Hanya pasokan makanan darurat dan layanan medis yang dapat terus bekerja di kamp-kamp dengan menjaga kehati-hatian," Komisioner pengungsi, Mahbub Alam Talukder, diberitakan AFP.

Menurutnya, siapa pun yang baru saja melakukan perjalanan dari luar negeri dicegah masuk ke kamp pengungsian. Mereka baru boleh masuk setelah menyelesaikan masa karantina. Sampai saat ini, belum ada konfirmasi terkait dengan kasus infeksi di kamp pengungsian Rohingya. Namun, ada kasus yang terjadi di dekat wilayah pengungsian.

Sebelumnya, banyak pihak memperingatkan bahwa virus corona bisa menyebar dengan cepat, terlebih dengan kondisi pengungsi Rohingya yang berjejalan dan ‘kumuh’ sepert itu. Selain itu, kelompok hak asasi manusia menyampaikan rasa prihatin karena banyak beredar informasi yang tidak benar di kamp-kamp pengungsian. Misalnya, para pengungsi terbangun pada malam hari bulan lalu dan kemudian melaksanakan shalat malam. Mereka melakukan itu setelah menerima kabar bahwa hal itu bisa mencegah penyebaran virus corona.

Disebutkan, informasi dasar yang akurat mengenai virus corona tidak sampai kepada para pengungsi Rohingya karena di sana tidak ada internet. Untuk diketahui, pemerintah Bangladesh melarang akses internet di kamp-kamp pengungsian sejak September tahun lalu. Badan terkait meminta agar pemerintah Bangladesh mencabut larangan tersebut.

Meruju data Worldometers, Sabtu (11/4), sampai saat ini ada 482 kasus virus corona di Bangladesh, dengan 30 kematian dan 36 sembuh.
 

Pewarta: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile