Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Cerita Turunnya Omzet Tukang Bakso Keliling

Cerita Turunnya Omzet Tukang Bakso Keliling
Tukang bakso Man Hayi (Foto: NU Online/Syakir)
Tukang bakso Man Hayi (Foto: NU Online/Syakir)
Cirebon, NU Online
Gerimis turun rintik-rintik. Langit sempurna gelap. Purnama yang katanya terlihat paling besar sepanjang 2020 itu tak tampak di atas Cirebon, sebuah kota di ujung timur laut Jawa Barat.

Jam ponsel sudah menunjukkan angka 22. Jalanan sepi. Tak ada suara, selain air yang jatuh di atas genting. Lalu, suara denting memecah kesunyian.

"Ting ting ting," begitulah bunyi sendok yang diadu dengan mangkuk.

"Padamu," lanjut suara seseorang menyertainya.

Man Hayi, begitulah orang tersebut akrab disapa. Ia baru saja bangun dari istirahatnya di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren. Setelah jamaah Isya, ia tak bisa menyembunyikan lelahnya mendorong gerobak bakso jualannya.

Pewarta NU Online mendatanginya pada Selasa (7/4) malam. Ia memesan baksonya satu mangkuk. "Satu, Mang. Ada mie instan?"

"Tinggal pilih saja," katanya sembari meletakkan kardus yang penuh berisi mie instan beragam rasa.

Ia pun melayani dengan sigap. Mie yang dipilih langsung dibukanya dan dimasukkan ke cubluk berisi kuah bakso. Ia membuka pintu gerobak bagian bawah, lalu memperbesar volume api kompornya.

Man Hayi keluar dari rumahnya yang berada di seberang sungai bakda Asar. Untuk sampai Masjid Agung Buntet Pesantren, ia memutar melalui jembatan yang bisa dilalui gerobaknya.

Ia bercerita merosotnya pendapatannya akhir-akhir ini. Cukup jauh. "Biasanya bisa dapat 500 ribu, sekarang 100 sampai 200 saja sudah untung banget," katanya.

Ia yang tak lagi sekuat dulu, tak mampu lebih banyak berkeliling. Biasanya, ia bisa menjajakan baksonya hingga wilayah barat pesantren. Namun saat ini, tenaganya sudah tak mendukung. Tak ayal, lepas Isya hingga pukul 22.00, ia menunggu pembeli di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren.

Baru setelahnya, ia hendak menuju ke arah timur. Selain jalannya yang lebih landai, ia mengira-ngira di sana baksonya bisa lebih laku.

Biasanya, di waktu tersebut, ia menunggu pembeli dari santri-santri almarhum KH Fuad Hasyim. Namun, keluarga Kiai Fuad sudah memulangkan ratusan santrinya karena pandemi Covid-19.

Man Hayi sudah mengetahui informasi bahwa PLN akan menggratiskan tagihan listriknya selama tiga bulan ke depan. Ya, ia pelanggan dengan tegangan listrik sebesar 450 VA. Ia sedikit bisa bernafas lega dengan adanya kabar tersebut.

"Berapa?" Pewarta menanyakan harga semangkuk baksonya.

"10 ribu."

Ia menyerahkan uang lembaran Rp 50 ribu. Man Hayi menerimanya, lalu merogoh kantong celananya, membuka laci gerobaknya. Dikumpulkannya lembar demi lembar uang. Masih cukup untuk memberikan kembalian Rp 40 ribu.

Tapi setelah itu, uangnya tinggal selembar warna biru yang baru saja diterimanya. Artinya, sedari Asar hingga pukul 10 malam, bisa jadi ia baru mendapat lima pembeli.

Ia sangat berharap wabah seperti ini lekas berakhir dan kehidupan kembali seperti semula.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi 
 
BNI Mobile