Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kreasi Fatayat NU Sampang Produksi Masker dari Kain Perca

Kreasi Fatayat NU Sampang Produksi Masker dari Kain Perca
Masker dari kain perca produksi PC Fatayat NU Sampang. (Foto: Istimewa)
Masker dari kain perca produksi PC Fatayat NU Sampang. (Foto: Istimewa)
Sampang, NU Online
Pemerintah telah mengeluarkan aturan bahwa siapa saja harus memakai masker saat berada di luar rumah. Hal tersebut sebagai upaya memutus mata rangkai tersebarnya Covid-19. Di samping beberapa ketentuan yang mengikat agar viris Corona tidak mudah tersebar.
 
Pada kenyataannya di lapangan, ternyata ketersediaan masker yang memiliki standar ketentuan susah didapat. Kalau pun ada, harganya melonjak lebih mahal dari biasanya. Karenanya, perlu gerakan bersama dalam memastikan masker dapat diperoleh dengan mudah dan murah bahkan gratis untuk warga.
 
Kreasi dilakukan sejumlah perempuan muda dari Kabupaten Sampang, Jawa Timur yang membuat masker secara massal. Uniknya, tidak sekadar masker, namun dengan motif seragam Fatayat NU yang didapat dari kain perca atau bekas.
 
“Ide awal pebuatan masker ini adalah dari Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Timur yang mengimbau untuk menyumbangkan kain perca untuk dijadikan masker,” kata Aminatur Rizqiyah kepada NU Online, Senin (13/4).
 
Fungsionaris Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Sampang bidang Pengembangan Organisasi, Pendidikan dan Pengkaderan tersebut menjelaskan bahwa sejumlah pengurus melakukan koordinasi.
 
“Kami menindak lanjuti pembuatan masker kain perca di tataran pengurus bersama tim dari Satuan Tugas Peduli Covid-19 PCNU Sampang dengan melibatkan badan otonom lainnya,” ungkap perempuan yang juga Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan Kecamatan Camplong tersebut. 
 
Dikerjakan Tanpa Mesin Jahit
Disampaikannya bahwa masker kain perca menjadi donasi dari PC Fatayat NU Sampang sebagai bentuk gerakan bersama di posko Satgas yang ada. Yang membedakan dengan gerakan lainnya adalah bahwa pembuatan masker tidak perlu dengan mesin jahit. Namun cukup memanfaatkan benang dan jarum tangan.
 
“Kami sadari bahwa banyak yang tidak memiliki mesin jahit dan kelangkaan masker pada saat ini. Maka, tim posko Satgas Peduli Covid-19 PCNU Sampang bersepakat untuk mengembangkan pembuatan masker mandiri dengan menggunakan jahit tangan secara massal,” urainya.
 
Berdasar kalkulasi yang dilakukan, bahwa dari aksi ini akan mel;ahirkan setidaknya 10.000 kader sekaligus relawan pembuat masker. Hal itu dapat tercapai dengan menggerakkan kader muda perempuan NU dari beberapa unsur seperti Fatayat NU, Muslimat NU, IPPNU, alumni PKPNU dan Korp PMII Putri atau Kopri. 
 
“Saya mengawali untuk mencoba membuat masker mandiri dengan cara yang mudah dilakukan secara lokal, kemudian membagikan cara tersebut untuk para fasilitator yang akan mendampingi pembuatannya di tingkat kecamatan,” ungkap alumnus pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.
 
Menurutnya, gerakan akan dilakukan secara masif dalam empat hari ke depan dengan mengundang 15 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dari 14 kecamatan. Hal tersebut mempertimbangakan imbauan untuk tidak mendatangkan massa lebih dari 20 orang.
 
Ditanya soal pola pendistribusian  di tengah anjuran stay at home, maka yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan 4 orang dari tiap kecamatan. Dan dari 4 unsur tersebut nantinya berada dalam satu titik dan tidak lebih dari 20 orang.
 
“Saat bertemu, ketentuan sesuai anjuran pemerintah kami lakukan yakni dengan catatan tetap menggunakan masker, cuci tangan, tidak bersalaman dan menjaga jarak,” katanya.
 
Pertemuan sendiri tidak semata ajang sosialisasi mengenai cara pembuatan masker secara mandiri, namun juga mengedukasi tentang Covid-19 tanpa membuat resah masyarakat.
 
“Ya, dari bagaimana mencuci tangan yang baik dan pembuatan hand sanitizer dari daun sirih. Sehingga dari pelatihan singkat ini akan disebarkan kembali ke PAC masing -masing dengan cacatan tetap memperhatikan imbauan yang ada,” pungkas pendamping sosial dan fasilitator Sekolah Perempuan Bintang 9 Sampang tersebut.
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile