IMG-LOGO
Opini

Agamawan dan Serbuan Tentara Corona

Achmad Murtafi Haris
Kamis 23 April 2020 20:00 WIB
Agamawan dan Serbuan Tentara Corona
Meski peran agama lebih bersifat preventif behavioral, Islam mendorong sepenuhnya berkembangnya dunia pengobatan melalui basis teori yang dia letakkan.

Ada sebuah meme yang mengilustrasikan para pemimpin agama yang mengerumuni dokter meminta tolong dari serangan makhluk jahat bernama Corona. Meme ini adalah meme satire yang menunjukkan lemahnya peran kaum agamawan dalam menghadapi wabah penyakit. Mereka berebut mencari selamat dari seorang dokter yang sedang berpikir keras mencari vaksin pembunuh virus kejam itu.

 

Penyakit fisik memang spesialisasi dokter sedangkan penyakit hati spesialisasi ulama atau kaum agamawan. Karena wabah adalah penyakit fisik maka peran dokter mengemuka dan berada di baris terdepan. Sedangkan penyakit hati yang merupakan sumber dari munculnya penyakit sosial seperti kriminalitas dan pertikaian, peran utamanya ada di tangan ulama dan agamawan dan diteruskan oleh penegak hukum. Keduanya, baik dokter maupun ulama, adalah pilar kesehatan masyarakat: jasmani dan rohani. Tanpa keduanya, manusia akan menderita penyakit yang menggerogoti tubuh dan jiwanya.

 

Sepintas tidak terpikir bahwa ulama berperan dalam kesehatan. Hal ini lantaran perhatian orang lebih tertuju pada apa yang tampak secara fisik. Tanpa menghubungkannya dengan perilaku di balik itu yang membuat munculnya penyakit. Al-Ghazali mengatakan bahwa banyak penyakit bersumber dari perut, atau perut adalah sarangnya penyakit. Hal ini sejalan dengan pesan hadits riwayat Miqdad dalam Sunan Tirmidhi agar manusia jangan mengisi sesuatu yang buruk dalam perutnya.

 

Untuk itu orang harus memperhatikan apa yang dikonsumsi dan cara mengonsumsi. Dalam bahasa Al-Qur’an hendaknya memenuhi syarat halal dan tayyib. Secara fiqih ia halal hukumnya dan secara teknis juga baik (al-Baqarah: 168). Jika ini dilanggar berpotensi menimbulkan penyakit. Wabah Covid-19 yang berawal dari Wuhan banyak disebut berasal dari kelelawar atau tenggiling entah melalui konsumsi di rumah makan seafood atau melalui penularan di pasar hewan (Medical News Today). Menyadari hal itu, pemerintah Shenzhen usai pandemi merebak ke seantero jagat, melarang mengonsumsi daging binatang buas: kucing dan anjing (CNN, BBC, Newsweek). Sebuah ajakan yang sejalan dengan ajaran agama Islam.

 

Dalam etika makan, diajarkan agar makan seperlunya. Kenyang boleh tapi tidak berlebihan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad disebutkan bahwa isi perut dibagi tiga: sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga udara. Makan yang berlebihan (rekreasi kuliner yang tidak terkendali) di antaranya akan menghasilkan residu lemak yang berdampak kegemukan dan tidak lancarnya aliran darah.

 

Paparan di atas menunjukkan bahwa peran agama dalam bidang kesehatan lebih bersifat preventif melalui pengajaran materi pola hidup sehat. Peran ini semakin besar dalam mencegah penyakit sosial. Kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban yang berujung masuk rumah sakit adalah karena tidak mampu mengendalikan emosi yang menjadi bidangnya agama. Korban kekerasan baik yang individu apalagi massal, semuanya adalah akibat dari kekerasan hati yang mengakibatkan tumpulnya empati. Miskin nilai tasawuf menimbulkan krisis rohani yang berakibat pada hilangnya kendali diridan kecenderungan terbawa nafsu/emosi. Kalau terus dibiarkan akan membesar dan menimbulkan krisis kemanusiaan di mana rumah sakit kebanjiran.

 

Meski peran agama lebih bersifat preventif behavioral, Islam mendorong sepenuhnya berkembangnya dunia pengobatan melalui basis teori yang dia letakkan. Dalam banyak riwayat hadits Rasulullah disebutkan: “Likulli da’I dawa’ illa al-haram” (setiap penyakit ada obatnya kecuali tua). Semangat untuk menemukan obat bagi penyakit apa pun, mendorong munculnya para ilmuwan yang menggeluti dunia farmasi seperti Ibnal-Baytar (l. Malaga Spanyol, 1197). Juga Ibnu Sina (l. 980 M) yang mengawali ilmu anatomi tubuh dan bapak ilmu kedokteran modern asal Iran. Tracy Kolenchuk penulis The Theory of Cure mengatakan bahwa pada prinsipnya setiap penyakit bisa disembuhkan: Every disease can be cured. Mengapa tua seperti kata Rasulullah tidak bisa disembuhkan, karena ia bukan penyakit. Ketuaan adalah sesuatu yang normal. Sedangkan penyakit bersifat abnormal.

 

Perkembangan dunia medis di kemudian hari hingga masa kejayaan Eropa di antaranya karena andil besar Ibn Sina atau Avicenna. Natur ilmu pengetahuan yang netral menjadikan ilmu bersifat cair merembes ke mana saja dan tidak menggumpal di satu tempat. Apalagi kesehatan adalah kebutuhan asasi manusia, maka ilmu tentangnya berlaku untuk semua lintas budaya dan keyakinan. Dari Avicenna yang muslim menyebar ke Eropa yang Yudeo-Kristiani dan sekuler, dan menyebar ke semua belahan dunia. Umat Islam pun kini belajar kedokteran dari Barat sebagaimana Barat dahulu belajar dari Islam di Malaga Spanyol dan Baghdad hingga abad ke-16.

 

Peletakan basis moral dan basis teori seperti yang dilakukan oleh Islam terhadap bidang kedokteran adalah fungsi peretas jalan seperti halnya filsafat. Ia kemudian ditindaklanjuti dan mendorong berkembangnya ilmu kedokteran yang fokus di bidang tersebut. Sebuah tataran yang meski agama berperan di awalnya, namun ia tidak lagi terlibat langsung pada fase selanjutnya. Ia menjadi spesialisasi kedokteran dan bukan lagi spesialisasi agama. Ketika desain baju selesai dibuat, tugas selanjutnya ada di tangan konveksi atau tukang jahit. Kalau baju rusak perginya ke tukang jahit bukan ke desainer.

 

 

Achmad Murtafi Haris, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

 

 

Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG