Cerita Aktivis NU Mengarantina Diri untuk Cegah Covid-19

Cerita Aktivis NU Mengarantina Diri untuk Cegah Covid-19
Ali Sobirin saat berada di Jepang. (Foto: Istimewa)
Ali Sobirin saat berada di Jepang. (Foto: Istimewa)
Jakarta, NU Online
Pada pertengahan bulan Maret yang lalu, Wakil Sekretaris Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Ali Sobirin melakukan perjalanan ke Jepang. Selama empat hari, dia berada di Jepang untuk urusan kerja sama usaha.

Setiba di Jakarta, Also, panggilan akrabnya memutuskan melakukan karantina mandiri hingga 18 hari. Ia tahu anjuran karantina mandiri sebagai pencegahan penularan Covid-19, terlebih ia baru melakukan perjalanan ke luar negeri.

"Saya mengarantina diri di rumah karena saya ingin menjaga ketenangan jiwa keluarga. Daripada keluarga bimbang," kata Also.
 
Ia meyakini, kondisi di Indonesia akan semakin memburuk, meskipun saat itu jumlah orang yang dinyatakan positif terkena Covid-19 baru di kisaran 200 orang.
 
"Saya tidak mau jadi tertuduh oleh keteledoran orang lain (seandainya jumlah pasien Covid-19 terus meningkat). Saya mengalah dengan mengarantina secara mandiri selama 18 hari," tuturnya.

Berada di rumah, bahkan hanya di dalam kamar, Also mengatakan istrinya sudah sangat siap dengan pola yang baru, termasuk melayaninya yang sedang karantina mandiri, seperti mengantarkan makanan ke kamar, mengambil keperluan lainnya.
 
Soal karantina mandiri ini, kata Also, istrinya sangat sadar, sehingga tidak ada hambatan. Mereka akhirnya menikmati sebagai sedang dalam permainan.
 
"Sudah sejak di Jepang istri menganjurkan karantina mandiri. Saya senyum saja. Syukur, jadi anteng dan fokus menyelesaikan pekerjaan," ujarnya.

Penulis buku Teknologi Ruh itu mengatakan, selama karantina dirinya tidak mengalami kendala apa pun, semua berjalan normal. Barangkali itu karena dia tidak mengalami kebutuhan mendesak untuk bekerja secara fisik. "Seluruh kerjaan saya kebetulan bisa dikoordinasi via WA, sangat simpel," katanya.

Hal yang lucu pun ia rasakan. "Kadang mirip sedang berada di penjara. Kadang seperti merasa di rumah sakit. Itu loh makanan dianter di depan kamar. Hahaha," tuturnya.
 
Satu hal yang memberatkan bagi Also adalah karena ia tidak bisa bersentuhan dengan keluarga. "Nggak bisa nggendong anak," kata dia.

Meski demikian, ia tidak merasa mengisolasi diri, karena tetap bisa melakukan banyak hal. "Malah saya merasa 24 jam itu kurang. Waktu seperti berlalu sangat cepat," ungkap pria yang juga motivator ini.
 
Also juga menyebutkan beberapa hal yang dia lakukan selama masa karantina mandiri. Di antaranya,  menambah waktu meditasi, menambah waktu wiridan Maghrib dan Subuh, membaca kembali buku-buku yang sudah atau belum dibaca. Kemudian, menyelesaikan pekerjaan yang memang lebih banyaknya adalah komunikasi dengan berbagai jaringan, dan membuka kelas via online.

Karantina mandiri menurut Also akhirnya memberikan banyak hikmah, utamanya sisi spiritual. Ada kesadaran bahwa kiamat itu ada dan sangat mudah bagi Allah, dan tidak mesti dengan hujan meteor atau gempa. Juga kesadaran bahwa mendekati Allah itu sebetulnya tidak harus dengan beramai-ramai. "Malah mestinya nyepi mandiri di mana keikhlasan itu diuji, tiada riya," katanya.

Sementara dari sisi mental adalah bahwa disiplin itu kunci segalanya, termasuk pola makan agar selalu terjaga. Sedangkan secara intelektual, karantina mandiri menyadarkan perlunya mengasah diri.
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni
 
BNI Mobile