Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

ISNU Tulungagung Luruskan Kemunculan ‘Klaster Tahlilan’

ISNU Tulungagung Luruskan Kemunculan ‘Klaster Tahlilan’
Ketua PC ISNU Tulungagung, Mochammad Rifai. (Foto: NU Online/istimewa)
Ketua PC ISNU Tulungagung, Mochammad Rifai. (Foto: NU Online/istimewa)
Tulungagung, NU Online
Perhatian masyarakat saat ini tertuju kepada perkembangan virus Corona. Dinamika yang terjadi di berbagai daerah demikian menjadi perhatian. 
 
Beberapa fakta terbaru muncul terkait para penderita Covid-19, termasuk dari kalangan pesantren di magetan, Jawa Timur. Bahkan, muncul juga klaster tahlilan lantaran jamaah yang tertular virus Corona jumlahnya sangat besar, 7000 orang seperti di kawasan Tulungagung.
 
Terkait hal ini, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Tulungagung menyebut informasi tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahwa yang mengemuka di media massa dan media sosial atau Medsos bahwa ada ‘klaster tahlilan’ kasus Corona yang menyebar acak dan menginfeksi sejumlah warga di Desa Jabalsari, Tulungagung perlu diluruskan.
 
“Saya tegaskan bahwa terkait klaster tahlilan, tidak sepenuhnya benar,” kata Mochammad Rifai, Ahad (26/4).
 
Dijelaskan Ketua Pengurus Cabang (PC) ISNU Tulungagung ini bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan adalah bahwa persebaran virus berasal dari dokter Ys yang terpapar dari pasien positif Covid-19 berinisial Hn, asal Ngadiluwih, Kediri. 
 
"Tidak ada itu klaster tahlilan. Yang benar adalah persebaran dari klaster ketiga, yaitu jalur penularan dari kelompok tenaga medis di RSUD (dr. Iskak) yang terpapar dari pasien HN," katanya kepada NU Online.
 
Rifai yang juga Humas RSUD dr Iskak Tulungagung mengakui ada indikasi paparan virus Corona di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, saat acara tahlilan mendoakan tokoh agama setempat yang meninggal di rumah, bukan meninggal di rumah sakit. Namun, hal tersebut bukan berarti bisa disimpulkan sebagai klaster baru yakni klaster tahlilan.
 
Menurut Rifai, penggunaan diksi klaster tahlilan sekalipun hanya ‘permainan’ judul dan sudut pandang pemberitaan, bisa menimbulkan opini yang keliru atau menyesatkan di masyarakat.
 
“Sebab identifikasi klaster tahlilan memang tidak ada dalam catatan epidemologi Satgas Penanggulangan Covid-19,” terangnya. Sebaliknya, paparan virus Corona baru yang menginfeksi warga Desa Jabalsari berinisial MA merupakan kelanjutan dari temuan kasus di klaster ketiga, lanjutnya.
 
Secara lebih rinci, Rifai menjelaskan bahwa MA terpapar Corona dari dokter YS yang tertular dengan status OTG atau orang tanpa gejala dari pasien klaster ketiga, yaitu pasien asal Ngadiluwih, Kediri.
 
"Tahlilan pun sebenarnya tidak masalah seandainya waktu itu warga patuh pada protokol kesehatan untuk mencegah paparan virus Corona baru,” ungkapnya. 
 
Yang dimaksud dengan protokol adalah antarjamaah konsisten saling menjaga jarak, cuci tangan saat masuk dan ke luar rumah, tertib menggunakan masker, dan jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang," katanya.
 
Di akhir penjelasannya, Rifai berharap semua kalangan untuk mengikuti anjuran yang telah ditentukan pemerintah. 
 
“Jadi, masyarakat diharap selalu mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah demi memastikan virus Corona tidak semakin menyebar,” pungkasnya.
 
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Aryudi AR
 
BNI Mobile