Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Satgas Covid-19 DPR Terus Dorong Penggunaan Obat Herbal

Satgas Covid-19 DPR Terus Dorong Penggunaan Obat Herbal
Jika ada asistensi pemerintah melalui kementerian terkait, ke depan para produsen jamu dan obat tradisional kita akan berjaya, bisa memenuhi pasar domestik dan memasok ke pasar internasional. (Ilustrasi)
Jika ada asistensi pemerintah melalui kementerian terkait, ke depan para produsen jamu dan obat tradisional kita akan berjaya, bisa memenuhi pasar domestik dan memasok ke pasar internasional. (Ilustrasi)
Jakarta, NU Online
Indonesia harus bangkit dengan riset-riset obat herbal, terlebih Indonesia mempunyai sumber daya alam melimpah, juga sumber daya manusia yang bagus. Potensi ini harus disatukan dengan kebijakan pemeritah, dengan mendukung riset dan pengembangan produk herbal. 
 
"Kita dukung petani, kita dorong periset, kita temani pelaku industrinya, lalu digarap dengan regulasi yang jelas. Bahkan, Indonesia bisa mengambil peluang untuk memasok obat herbal di pasar internasional, jika punya produk yang telah diujicoba dan diakui oleh lembaga kesehatan internasional," kata Deputi Logistik Satgas Lawan Covid-19 DPR RI, Muchamad Nabil Haroen, Selasa (28/4).

Nabil mengatakan saat ini Satuan Tugas (Satgas) Lawan Covid-19 DPR RI telah memproduksi obat herbal Herbavid19. Obat herbal Herbavid19 disebutnya mampu mengobati pasien Covid-19. Satgas Lawan Covid-19 bahkan telah memberikan Herbavid19 ke berbagai rumah sakit.
 
"Satgas Lawan Covid-19 DPR RI terus bekerja untuk memberikan pelayanan dan bantuan kepada rumah sakit, tenaga medis, dan pihak-pihak yang terdampak Covid-19," kata Nabil Haroen.
 
Anggota Komisi IX DPR ini menambahkan, pihaknya terus berkolaborasi dengan sebanyak mungkin pihak untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini di tengah krisis akibat virus Corona.
 
Menurut Nabil, obat Herbal Herbavid19 terbuat dari bahan-bahan lokal dan sebagian kecil impor. "Ada sebelas bahan yang digunakan untuk produksi, 8 dari lokal, 3 bahan impor karena memang tidak ada di Indonesia. Dari bahan-bahan itu, kemudian diracik oleh partner dengan memenuhi standar kesehatan internasional," imbuhnya.
 
Selain itu Satgas Lawan Covi-19 juga terus bekerjasama dengan beberapa perajin jamu tradisional atau herbal untuk uji coba pembuatan produk. Meski saat ini tidak semua produsen dilibatkan, Nabil berharap ke depan akan sebanyak mungkin pengusaha/perajin jamu tradisional yang dilibatkan.
 
Bersama Satgas Lawan Covid-19 DPR RI, pihaknya juga mendorong pemerintah untuk mendukung riset obat herbal, serta mendukung produksi jamu tradisional atau herbal ini.
 
"Jadi, jika ada asistensi pemerintah melalui kementerian terkait maka ke depan, saya berharap para produsen jamu dan obat tradisional kita akan berjaya, bisa memenuhi pasar domestik dan memasok ke pasar internasional," pungkasnya.
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile