Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Aktivis Ansor Populerkan ‘Warung Geratis’ bagi Warga Terdampak Corona

Aktivis Ansor Populerkan ‘Warung Geratis’ bagi Warga Terdampak Corona
Uson (kanan) dan Warung Geratis atau 'Wage' di Plalangan, Jenangan, Ponorogo, Jatim. (Foto: NU Online/Yoga)
Uson (kanan) dan Warung Geratis atau 'Wage' di Plalangan, Jenangan, Ponorogo, Jatim. (Foto: NU Online/Yoga)
Ponorogo, NU Online
Rasa cinta kepada tempat saat ini tinggal dapat diwujudkan dengan beragama cara. Saat virus Corona melanda, aktivis Ansor di Ponorogo ini mengenalkan Warung Geratis atau Wage agar warga turut peduli dengan penderitaan sesama.
 
Penggagas Wage adalah Marsono yang sehari-hari diamanahi sebagai Wakil Ketua Kaderisasi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Plalangan, Jenangan, Ponorogo, Jawa Timur.
 
Agar Warga Bisa Membantu Sesama
Bersama Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis ‘Sri Sentono’, dikenalkanlah Wage yang juga sebagai bentuk kecintaan kepada desa dan GP Ansor.
 
Uson, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa idenya berawal saat melihat kondisi masyarakat akibat pandemi Covid-19. Ketua Pokdarwis Sri Sentono ini mengungkap banyak masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam rangka membantu sesama. Untuk itu dirinya bersama tim berpikir menyediakan wadah yang tepat untuk membantu warga. 
 
"Akibat pandemi, harus ada sebuah wadah yang bisa membantu sesama, utamanya kebutuhan pokok dapur dan kebersihan diri," katanya, Jumat (1/5). 
 
Konsepnya, masyarakat bisa menaruh kebutuhan pokok di posko yang ada. Di Warung Geratis atau Wage, warga tidak semata mengumpulkan uang tunai yang kadang jumlahnya dianggap tidak layak. Namun yang ditaruh adalah sayur, lauk, sabun, sampo dan kebutuhan harian lain.
 
“Gagasan juga menampung dari keluhan masyarakat petani yang uangnya terbatas, namun berhasrat ingin membantu warga yang kekurangan akibat Covid-19,” terangnya. 
 
Disampaikan kalau ada warga yang tidak mempunyai uang tunai dalam jumlah banyak, tentu saja sungkan bahkan malu untuk menyetorkan kepada tim. Tapi saat diwadahi dengam Wage, rasa rendah diri itu bisa teratasi.
 
“Misalnya ada warga yang akan menyumbang uang jumlahnya hanya sepuluh ribu atau kurang, kan biasanya sungkan lantaran dianggap kurang patut,” jelasnya. Akan tetapi kalau dalam bentuk sayuran dan lauk pauk atau lainnya, maka akan bisa terlihat dan dapat dirasakan serta diolah warga yang membutuhkan, lanjutnya.
 
Sejumlah barang maupun bahan yang disumbangkan ditaruh di Wage dengan cara diletakkan, dan siapa saja yang membutuhkan tinggal mengambil sesuai kebutuhan.
 
“Warga yang membutuhkan bisa langsung mengambil di Wage yang kebetulan berada di samping Pos Covid-19 Desa Plalangan,” katanya.
 
Dirinya menjelaskan bahwa setelah gagasan diterima, tim bekerja membuat warung gratis lewat media sosial sampai akhirnya viral. 
 
"Awalnya lewat media sosial, ternyata juga diliput wartawan dan muncul di beberapa media,” ungkapnya.
 
Karena mendapatkan respons positif dari berbagai kalangan, gagasan tersebut disepakati untuk dibentuk lagi di beberapa titik di wilayah Desa Plalangan. 
 
"Selain itu sudah ada permintaan dari desa lain. Nah kita persilakan untuk menggunakan ide ini dengan memakai nama yang sama atau dengan nama sesuai masing-masing kelompok," tuturnya.
 
Dia mengemukakan di desa sebelah ada yang mengunakan istilah Seger atau Sembako Geratis.
 
Uson menambahkan Wage yang dibentuk merupakan wujud kecintaan kepada desa dan GP Ansor. 
 
"Karena sudah terlanjur cinta kepada Ansor dan desa," pungkasnya.
 
Kontributor: Yoga
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile