Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Hasil Survei: Dosen Perlu Pertimbangkan Fasilitas untuk Efektivitas Belajar Daring

Hasil Survei: Dosen Perlu Pertimbangkan Fasilitas untuk Efektivitas Belajar Daring
Data hasil survei menunjukkan bahwa  mayoritas mahasiswa menjawab pembelajaran daring masih belum berjalan efektif. (Ilustrasi)
Data hasil survei menunjukkan bahwa  mayoritas mahasiswa menjawab pembelajaran daring masih belum berjalan efektif. (Ilustrasi)
Jakarta, NU Online
Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi (LKPT) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) melakukan survei potret realitas Pendidikan Tinggi di Tengah Pandemik Covid-19 (Corona Virus Diseases 19). Data hasil survei menunjukkan bahwa  mayoritas mahasiswa menjawab pembelajaran daring masih belum berjalan efektif.
 
"Kondisi saat ini mahasiswa menginginkan dosen memberikan pelajaran yang kreatif, dan dapat menyesuaikan kondisi fasilitas pendidikan mahasiswa, seperti jaringan internet yang lemah di beberapa daerah di Indonesia," kata Direktur LKPT PP IPNU Toufikur Rozikin merilis hasil surveinya pada Sabtu (2/5).
 
Toufik menuturkan bahwa 69,45 persen responden menyebut pembelajaran daring tidak efektif, sedang yang menjawab efektif 24.58%, 2,63% kurang efektif, 1.91% tidak tahu, dan 1,43% menjawab lainnya.
 
Hal tersebut sejalan dengan data mahasiswa yang belum mendapatkan dukungan pembelajaran daring dari pihak kampus, sebesar 80,67 persen. Hanya 14,08 persen yang mengaku sudah mendapatkan dukungan pihak kampus, sedang lainnya tidak mengetahui.
 
Padahal, mereka sudah melakukan pembayaran uang kuliah. Namun, perkuliahan biasa hanya berjalan kurang dari satu bulan, sehingga banyak tuntutan mahasiswa untuk pengganti sebagian uang kuliah yang telah mereka tunaikan dengan fasilitas pembelajaran daring, seperti kuota internet.
 
Di samping itu, data juga menunjukkan bahwa fasilitas pembelajaran daring mereka kurang memadai berjumlah 62,53 persen, sedangkan sisanya, 37,47 persen, menjawab fasilitas sudah memadai.
 
Toufik menyampaikan bahwa survei ini mengacu pada Surat Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayan Nomor 302/E.E2/KR/2020 tentang masa belajar penyelenggaraan program pendidikan.
 
Di samping itu, survei juga mengacu Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Covid-19, Kemendikbud telah mengganti metode belajar di sekolah dengan belajar dari rumah.
 
Hasil survei LKPT PP IPNU juga menunjukkan 61,10 persen mahasiswa setuju dengan penggantian tugas akhir dalam hal ini skripsi diganti sesuai kebijakan Perguruan Tinggi seperti penulisan jurnal. Kemudian 23,39 persen menjawab tidak setuju, dan sisanya 15,51 persen menjawab tidak tahu. "Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menginginkan metode baru dalam menyelesaikan tugas akhir," terang Toufik.
 
Selain itu, LKPT PP IPNU juga melihat ragam pendapat mahasiswa mengenai kinerja Pemerintah Pusat dalam hal ini Presiden dalam menangani penyebaran pandemi Covid-19, 15,04 sangat baik, 69,69 persen cukup baik, 14,32 persen kurang baik, 0,95 persen tidak baik.
 
Kemudian, kinerja Kemendikbud dalam menangani penyebaran Covid-19 di dalam satuan pendidikan tinggi dinilai 10,98 persen sangat baik, 56,63 persen cukup baik, 22,20 persen kurang baik, sisanya 1.19 persen tidak baik.
 
Ketua Umum PP IPNU Aswandi Jailani berharap survei ini bisa menjadi referensi pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan pendidikan. "Kami berharap stakeholder pendidikan mulai dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, pimpinan perguruan tinggi negeri ataupun swasta dan para dosen dapat memformulasikan metode belajar dari rumah yang efektif dan kreatif," ujarnya.
 
Melaui hasil survei ini, PP IPNU mewakili pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia, mengapresiasi kinerja pemerintah pusat, dalam menangani penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia. "Namun, kami juga menginginkan hak kami untuk mendapatkan pelajaran melalui metode belajar yang efektif," pungkasnya.
 
Sebagai informasi, survei ini melibatkan 419 mahasiwa, dari 34 provinsi di Indonesia. Periode pengambilan data dilaksanakan pada 23 April sampai dengan 1 Mei 2020 dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif.
 
Tercatat, 52,51 persen responden merupakan mahasiswa perguruan tinggi negeri dan 47.49 persen lainnya mahasiswa perguruan tinggi swasta. Pengisian kuesioner menggunakan formulir Google, dengan margin of error 5 persen.
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile