Sulit Akses Internet, Ini Solusi Pembelajaran Jarak Jauh

ilustrasi belajar online
ilustrasi belajar online
ilustrasi belajar online
Jakarta, NU Online
Tidak semua pelajar di Indonesia mudah mengakses internet. Selain soal jaringan atau sinyal, keadaan ekonomi juga menjadi kendala.

Pakar Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Muhammad Zuhdi melihat perlunya mempertimbangkan kearifan lokal sekolah setempat. "Di sini perlu dipertimbangkan kearifan lokal," ujarnya kepada NU Online pada Sabtu (2/5).

Namun, ia menegaskan bahwa mungkin tidak ada jawaban yang satu solusi, cocok untuk semua (one size fits all). Guru dan sekolah harus melihat kondisi siswa dan lingkungannya.

Zuhdi menggarisbawahi bahwa hal yang terpenting adalah bagaimana guru memahami esensi pendidikan yang harus dikuasai atau tujuan yang akan dicapai oleh siswa dengan daya dukung lingkungan tempat tinggal siswa.

"Mungkin tidak semua materi harus diberikan, tapi cukup yang esensial saja," ujar Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Jika pembelajaran daring tidak mungkin dilaksanakan dan orangtua memiliki keterbatasan, ada beberapa hal yang mungkin dilakukan. Pertama, guru membuat panduan singkat buat siswa dan pendampingnya, mengenai tujuan dan esensi dari kurikulum.

"Lalu menyampaikannya ke orangtua siswa. Bisa saja orangtua siswa diminta ke sekolah mengambil bahan belajar tersebut," katanya.

Kedua, sekolah-sekolah atau lingkungan membuat semacam gugus tugas di lingkungan tempat tinggal siswa. "Jadi, yang dibentuk bukan hanya gugus tugas Covid, tapi juga gugus tugas pendidikan," ujar akademisi alumnus Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Sukabumi, Jawa Barat itu.

Gugus tugas ini, jelasnya, bertugas membantu siswa di lingkungan sekitarnya yang perlu bantuan dalam belajar. Tentu, gugas ini perlu dibekali pengetahuan yang memadai.

Terakhir, ia menyarankan kepada guru agar dapat mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di sekitar siswa.

Kesulitan akses internet ini dialami salah satunya oleh siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ma'arif NU 1 Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah.

Salah satu gurunya, Itsnan Fauzan, menuturkan bahwa anak didiknya ada yang rela turun gunung agar mendapatkan jaringan sinyal atau ikut ke rekannya yang memiliki paket data. Bahkan, beberapa di antaranya sempat belum memiliki ponsel untuk digunakan dalam pembelajaran.

"Untuk siswa yang saya ampu alhamdulillah memiliki hp semua. Sempat kemarin ada dua anak yang tidak ada hp tetapi bisa pinjam punya orang tua. Ada yg tidak ada paketan ya. Ada juga yang harus turun gunung untuk mencari sinyal," ceritanya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi
 
BNI Mobile