IMG-LOGO
Internasional

Irak Bentuk Pemerintahan Baru setelah 6 Bulan tanpa Kepastian

Sabtu 9 Mei 2020 21:00 WIB
Irak Bentuk Pemerintahan Baru setelah 6 Bulan tanpa Kepastian
https://www.aljazeera.com/
Baghdadh, NU Online
Parlemen Irak akhirnya berhasil membentuk pemerintahan baru setelah enam bulan tidak ada kesepakatan di antara partai-partai terkait perdana menteri. Pada Rabu (6/5), diumumkan bahwa Mustafa al-Kadhimi menjadi Perdana Menteri Irak dan akan memimpin pemerintahan. Namun dia akan memulai pemerintahannya tanpa menteri penuh setelah beberapa kandidatnya ditolak parlemen.

Menurutnya al-Kadhimi, Irak tengah menghadapi banyak tantangan, baik dari bidang keamanan, ekonomi, sosial, maupun kesehatan. Namun dia mengaku optimis dan bisa menghadapi tantangan-tantangan itu.

Dia mengatakan, untuk saat ini prioritasnya adalah menangani pandemi Covid-19 dan menuntut pertanggungjawaban mereka yang terlibat membunuh para demonstran dalam aksi protes anti-pemerintah beberapa bulan lalu.

Sebagai diketahui, mantan Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi, yang memimpin pemerintahan sementara, mengundurkan diri akhir tahun lalu setelah didemo berbulan-bulan. Tidak hanya perdana menteri, massa juga menuntut mundur elite-elite penguasa Irak yang dituduh membuat Irak mengalami disfungsi dan kehancuran ekonomi.

Pemerintahan baru Irak ini bukan tanpa tentangan. Beberapa demonstran menggelar aksi protes di Lapangan Tahrir, Bahghdad pada Rabu lalu. Mereka tidak sepakat dengan pemerintahan baru tersebut karena pengunjuk rasa tidak dilibatkan dalam pembentukan pemerintahan baru tersebut.

"Setiap pemerintah yang dibentuk di dalam parlemen tanpa pendapat para pengunjuk rasa akan ditolak," kata salah seorang peserta aksi, Abdullah Salah, sebagaimana diberitakan Aljazeera, Kamis (7/5).

Siapa al-Kadhimi?
Al-Khadimi memiliki nama kecil Mustafa Abdellatif Mshatat. Dia lahir di Baghdad pada 1967. Tercatat, ia pernah tinggal di beberana negara seperti Iran, Jerman, dan Inggris. Dia memiliki gelar sarjana hukum, namun lebih dikenal karena pekerjaannya sebagai jurnalis. Ketika menjadi jurnalis inilah dia memilih 'al-Kadhimi' sebagai gelarnya.

Al-Kadhimi diketahui sebagai oposisi pemerintaha Saddam Husein. Dia baru pulang ke Irak pada 2003, setelah invasi Amerika Serikat (AS) ke negaranya. Dia kemudian mendirikan Jaringan Media Irak. Al-Kadhimi juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalan Newsweek Irak selama tiga tahun, sejak 2010. Dia juga seorang penulis opini serra editor di laman Al-Monitor, yang berbasis di AS.
 
Pada Juni 2016, al-Khadimi menduduki jabatan Direktur Badan Inteligen Nasional Irak. Dan pada 2020, dia ditunjuk Parlemen Irak menjadi Perdana Menteri baru, menggantikan Adel Abdul Mahdi yang mengundurkan diri akhir tahun lalu.

Pewarta: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG