Berbeda dengan HIV, Covid-19 Bukan Penyakit Endemik

Covid-19 saat ini baru memasuki bulan kelima. Sekitar 80 persen negara terjangkit di dunia sudah dalam situasi wabah menurun, terkendali, dan hampir selesai.
Covid-19 saat ini baru memasuki bulan kelima. Sekitar 80 persen negara terjangkit di dunia sudah dalam situasi wabah menurun, terkendali, dan hampir selesai.
Covid-19 saat ini baru memasuki bulan kelima. Sekitar 80 persen negara terjangkit di dunia sudah dalam situasi wabah menurun, terkendali, dan hampir selesai.
Jakarta, NU Online
Ahli Epidemiologi UI, dr Syahrizal Syarif menilai pernyataan Ketua Tim Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan bahwa Covid-19 bisa menjadi penyakit endemik pada manusia sangat kontroversial. Apalagi dengan memilih contoh penyakit HIV-AIDS.
 
"HIV adalah penyakit yang disebabkan virus yang menyerang sistem kekebalan manusia. Saat ini manusia adalah sumber penularan utama dan sudah menjadi reservoir—tempat tinggal virus HIV. HIV bukan self limited disease dan mempunyai masa inkubasi yang panjang bahkan dapat 15 tahun, tidak ada vaksin dan obat pilihan," papar Syahrizal, Jumat (15/5) pagi.

Ia mengatakan pemberian Obat ARV dapat meningkatkan kualitas hidup pasien AIDS dengan minum obat seumur hidup, namun tetap membawa virus sepanjang sisa hidupnya. Selain itu, HIV juga merupakan penyakit spesifik bersifat klaster pada kelompok berisiko atau kelompok kunci yang secara sosial bersifat tertutup. 
 
"Penularan pada masyarakat umum ditandai dari tingginya kasus ibu hamil yang positif HIV. Deteksi dini dan penelusuran kontak menjadi masalah tersendiri karena terkait kelompok kunci. Hal ini yang menyebabkan HIV sulit dihilangkan dari kehidupan manusia," lanjut Ketua PBNU Bidang Kesehatan ini.

Sementara SARS-Cov2 berbeda dengan HIV. SARS-Cov yang muncul 2002 dapat diatasi dan dieradikasi dalam waktu delapan bulan. Sementara pandemik SARS-Cov2 (Covid-19) saat ini baru memasuki bulan kelima di mana sekitar 80 persen negara terjangkit di dunia sudah dalam situasi wabah menurun, terkendali, dan hampir selesai. 
 
"Walau harus disadari rute alamiah kasus impor, kasus klaster, transmisi lokal dapat memunculkan gelombang wabah baru, namun tidak mustahil sistem kewaspadaan yang baik dapat mengatasinya," kata dr Syahrizal.
 
Di samping itu, saat ini masih sekitar 42 negara berada dalam status wabah belum mencapai puncak termasuk Indonesia, Arab Saudi, Russia, India, dan beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin.
 
SARS-Cov2 adalah jenis Corona self- limited disease, di mana manusia bukan induk semang alamiahnya, masa inkubasi yang relatif cepat antara dua sampai 14 hari, tidak menular secara airborne (udara). 
 
Kemudian, ada alat diagnostik yang akurat seperti RT-PCR. "Walau belum ada pilihan obat, tingkat kesembuhan di atas 95 persen, walau kasus asymptomatic cukup tinggi 20 sampai 40 persen di kalangan usia muda, saya yakin Covid-19 tidak akan menjadi penyakit endemik seperti HIV," ujar Syahrizal optimis. 

Menurut Syahrizal, wabah Covid-19 mungkin berlangsung lebih lama dialami oleh negara-negara low income country, di mana kapasitas lab diagnostik dan kemampuan penelusuran kontak serta manajemen kasus terbatas.

Perlu diketahui Ketua Tim Kedaruratan kesehatan WHO, Michael Ryan pada Rabu (13/5) menyatakan Mei 2020) bahwa Covid-19 bisa menjadi penyakit endemik pada manusia. Penyakit endemik adalah penyakit yang terus-menerus ada di suatu daerah tertentu.
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile