HASIL RISET

20 Persen Masyarakat Kurang Patuhi Protokol Cegah Covid-19

Mayoritas responden mengetahui Covid-19 dan memandangnya berbahaya mencapai 87 persen. (Ilustrasi)
Mayoritas responden mengetahui Covid-19 dan memandangnya berbahaya mencapai 87 persen. (Ilustrasi)
Mayoritas responden mengetahui Covid-19 dan memandangnya berbahaya mencapai 87 persen. (Ilustrasi)
Jakarta, NU Online
Sebanyak 20,89 persen dari 18.743 orang kurang mematuhi protokol kesehatan dan imbauan pemerintah terkait pencegahan Covid-19.
 
Demikian hasil survei Tim Peneliti Majelis Reboan (MR) Kementerian Agama terkait peran tokoh agama dalam pencegahan Covid-19. 
 
Survei tersebut dilakukan secara daring pada 24-28 April 2020 dengan incidental sampling. Para responden berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Kebanyakan responden masuk Gen X yakni 43,34 persen; dan Gen Milenial 36,81 persen.
 
Umumnya 51,92 persen reseponden berpendidikan sarjana. Sebanyak 56,87 persen dari mereka mendapat info Covid-19 serta kebijakan atau imbauan di media sosial.
 

Mayoritas responden mengetahui Covid-19 dan memandangnya berbahaya mencapai 87 persen. Mereka juga umumnya (59,36 persen) merasa perlu mengikuti protokol kesehatan dan imbauan Pemerintah, termasuk fatwa atau imbauan keagamaan, dan siap mematuhinya.
 
Para peneliti mengungkapkan bahwa sentimen keagamaan masyarakat Indonesia sebenarnya masih kuat. Berdasarkan data Pew Research Center (2018) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menganggap agama memiliki peran yang besar dalam kehidupan mereka. Pemimpin dan ormas keagamaan pun memiliki peran penting dalam memberikan kesadaran tentang pentingnya kesehatan.
 
Dalam penanganan Covid-19, misalnya, peran tokoh agama dan ormas keagamaan ikut serta menganjurkan agar masyarakat mengindahkan imbauan pemerintah untuk melaksanakan kegiatan agama di rumah saja.
 
Karena itu, para peneliti merekomendasikan diperlukannya pendekatan dan edukasi kepada segenap kalangan umat, agar upaya pencegahan penyebaran wabah Covid-19 dapat berhasil maksimal.
 
Beberapa langkah yang harus dilakukan adalah Pemerintah Pusat dan Daerah, perlu lebih optimal memberdayakan tokoh agama dan ormas keagamaan dalam upaya penanganan Covid-19.
 
Ormas keagamaan dipandang oleh mayoritas (81,60 persen) responden lebih efektif menyampaikan pesan dan imbauan kepada umat dengan bahasa dan cara mereka.
 
Kemudian, tokoh atau pemuka agama dan ormas keagamaan agar lebih mengoptimalkan perannya dalam membimbing umat di saat kondisi pandemi ini.
 
 
Saat ini banyak responden (32,34 persen) mengikuti acara keagamaan secara daring atau online untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Tokoh agama, guru dan penyuluh agama dapat menyediakan layanan online conselling untuk mendampingi dan menjawab kegundahan umat dalam beragama di tengah wabah ini.

Rekomendasi lainnya, umat beragama agar menjaga diri dan keluarga dari ancaman Covid-19, dengan tetap di rumah, dan tetap beribadat di rumah. Secara otodidak belajar agama baik dari buku maupun pengajian online yang kini mudah ditemukan di ranah maya. Jika ragu dan memerlukan bimbingan, agar tak segan bertanya atau berkonsultasi kepada pemuka dan guru agamanya.
 
Peneliti menyebutkan penanganan wabah Covid-19 merupakan tanggung jawab bersama. Pembatasan ibadah di rumah bukanlah mengurangi hak beribadah, melainkan satu ikhtiar untuk mengantisipasi terpapar virus corona.
 
"Salah satu tujuan beragama adalah menjaga jiwa. Maka, menyesuaikan cara atau praktik beragama di masa pandemi demi menjaga jiwa adalah juga penegakan tujuan beragama. Mari, bersama tangani wabah," pungkas peneliti.
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad
 
BNI Mobile