Penjelasan Seputar Umur dan Silaturahim Jarak Jauh

Penjelasan Seputar Umur dan Silaturahim Jarak Jauh
Seorang hamba yang umurnya tersisa tiga hari kemudian dia menyambung tali silaturrahmi, maka Allah akan menyambung umurnya menjadi 30 tahun. 
Seorang hamba yang umurnya tersisa tiga hari kemudian dia menyambung tali silaturrahmi, maka Allah akan menyambung umurnya menjadi 30 tahun. 
Jakarta, NU Online
Suatu ketika ada dua orang lelaki bertamu kepada Nabi Daud AS. Bersamaan dengan itu malaikat pencabut nyawa Izrail menginformasikan kepada Nabi Daud bahwa salah satu dari mereka akan diambil nyawanya tujuh hari lagi. 
 
Namun setelah beberapa minggu, Nabi Daud AS masih melihat mereka berdua. Nabi Daud pun bertanya kepada Izrail: "Bagaimana mereka bisa tetap hidup?" Izrail pun menjawab "Sepulang bertamu darimu mereka melanjutkan perjalanan untuk bersilaturrahim, maka Allah memanjangkan umurnya 20 tahun lagi". 
 
Inilah kisah yang disampaikan Ulil Abshar Hadrawi, Jumat (22/5), sebagaimana dijabarkan oleh Syaikh Abdurrahman As-Shafuri dalam kitabnya Nuzhatul majalis wa muntkhabun nafais.
 
"Salah satu hikmah silaturrahim yang sangat populer adalah memanjangkan umur. Hal ini berdasar pada beberapa hadits yang sangat masyhur yang sering dikutip oleh para muballigh dan pendakwah," jelas Wakil Sekretaris Jendral PBNU ini.
 
Hadits yang sering disampaikan terkait hikmah silaturahim di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yakni Man ahabba an yubsatha lahu fi rizqihi wa yunsyau lahu fi ajalihi fal yattaqillaha wal yashil rahimahu (Barangsiapa yang ingin dikekalkan dalam rezekinya dan ingin dipanjangkan umurnya maka supaya bertakwa pada Allah dan menyambung silaturrahim).
 
Ad-dhahak, lanjutnya, berpendapat bahwa seorang hamba yang umurnya tersisa tiga hari kemudian dia menyambung tali silaturrahim, maka Allah akan menyambung umurnya menjadi 30 tahun. 
 
"Begitu juga sebaliknya seseorang yang jatah umurnya masih 30 tahun, kemudian dia memutus tali silaturrahim, maka Allah bisa memutus umurnya menjadi tiga hari," katanya.
 
Terkait dengan jarak geografis ataupun masalah lain sehingga tidak bisa bersilaturahim secara langsung, kisah Nabi Musa bisa menjadi perbendaharaan ilmu kita. Kisah ini memuat pertanyaan Nabi Musa kepada Allah SWT tentang cara bersilaturahim jarak jauh.
 
Dikisahkan Nabi Musa Kalimullah AS pernah bertanya kepada Allah, "Ya Allah bagaimana bisa bersilaturahim, sementara jarak tinggal di antara kita sangat jauh sekali? Allah menjawab, "Sayangilah mereka, sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri." 
 
Sementara Syaikh Abdurrahman As-Shafuri menjelaskan bahwa dalam Islam, silaturrahim jarak jauh bisa dilakukan dengan mengirim hadiyah dan mengirim salam sebagaimana dijelaskan dalam Nuzhatul majalis wa muntkhabun nafais, Jilid 1 hal 178.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile