Cegah Transmisi Covid-19, Ketua Lesbumi Jember Tiadakan Open House

Cegah Transmisi Covid-19, Ketua Lesbumi Jember Tiadakan Open House
Ketua PC Lesbumi Jember, Jawa Timur, H Rasyid Zakaria memberi sambutan dalam salah satu acara NU sebelum darurat Covid-19. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua PC Lesbumi Jember, Jawa Timur, H Rasyid Zakaria memberi sambutan dalam salah satu acara NU sebelum darurat Covid-19. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Jember, NU Online
Lebaran tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab tahun ini perayaan Idul Fitri digelar di tengah hunjaman badai Covid-19. Salah satu implikasinya adalah sepinya kebiasaan saling mengunjungi untuk silaturrahim. Para tokoh masyarakat yang biasa menggelar open house, kali ini sedikit membatasi diri, bahkan meniadakan agenda tersebut. Tujuannya adalah menghindari kontak langsung dengan orang untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya transmisi penyebaran Covid-19.

Salah satu sosok yang meniadakan open house adalah Ketua PC Lesbumi Jember, Jawa Timur, H Rasyid Zakaria.  Menurutnya, menjaga diri dari kemungkinan penularan penyakit adalah sebuah keniscayaan. Hal ini, katanya, tidak bisa diartikan sebagai sikap yang tidak percaya kepada takdir Allah. Justru berjaga-jaga merupakan sebuah ikhtiar untuk meraih takdir Allah ‘yang lebih baik’.

“Sebab, Nabi Muhammad mewanti-wanti siapapun agar menjauh dari orang yang terkena penyakit menular,” ujar H Rasyid di kediamannya kepada NU Online di Jember, Senin (25/5).

Ketua Ikatan Pecak Silat Cabang Jember itu menegaskan bahwa budaya saling mengunjungi saat Lebaran patut dilestarikan. Sebab dalam  tradisi tersebut mengandung kebaikan, yaitu memperkuat tali silaturrahim. Namun ketika negara dalam keadaan ‘bahaya’ akibat Covid-19, budaya saling mengunjungi tak perlu dilakukan.

“Sebab sekali lagi, kita semua sedang berupaya untuk menghambat laju penularan Corona,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Awaja NU Center Jember, Ustadz Moch Kholili mengungkapkan bahwa meskipun tujuan saling mengujungi adalah untuk silaturrahim, namun bisa diabaikan jika di dalamnya dimungkinkan terjadinya kerusakan (penularan penyakit). Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqih bahwa Dar'ul mafâsidi muqoddamun 'alâ jalbil masholih (Menghindari kerusakan/kejahatan harus lebih diuatamakan daripada meraih kebaikan).

“Maksudnya jelas bahwa menghindari kerusakan (penyakit) lebih utama dibanding silaturrahim, meskipun silaturrahin itu baik, tapi jika sekiranya menyebabkan penularan penyakit, maka jangan dilakukan (silaturrahim) itu,” tambahnya.

Ustadz Kholili menegaskan, kaidah ushul fiqih tersebut juga dipakai sebagai salah satu dasar imbauan untuk tidak melaksanakan shalat Idul Fitri di masjid/mushala saat Lebaran Ahad lalu (24/5). Dikatakannya, prinsip kehati-hatian dalam Islam sangat dianjurkan. Ikhtiar untuk tidak terpapar Covid-19, juga suatu keharusan. Sebab hilangnya penyakit atau tecegahnya suatu penyakit tidak terjadi begitu saja, tapi melalui usaha.

“Sebagai umat Islam, jangan pernah kita bilang, soal penyakit pasrahkan kepada Allah, itu namanya konyol kalau tanpa usaha,” pungkas Ustadz Kholili yang juga aktivis Migran Care itu.
.
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
 
 
 
BNI Mobile