Kecuali di Makkah, Saudi Cabut Aturan Jam Malam Mulai 21 Juni

Kecuali di Makkah, Saudi Cabut Aturan Jam Malam Mulai 21 Juni
Sebuah gedung di Jeddah, Arab Saudi, menampilkan pesan 'Tetap di Rumah' selama krisis pandemi Covid-19 berlangsung, pada 21 April 2020. (Foto: SPA)
Sebuah gedung di Jeddah, Arab Saudi, menampilkan pesan 'Tetap di Rumah' selama krisis pandemi Covid-19 berlangsung, pada 21 April 2020. (Foto: SPA)
Riyadh, NU Online
Otoritas Arab Saudi bakal melonggarkan pembatasan-pembatasan karena penguncian (lockdown)—yang menyebabkan banyak aktivitas dibatalka—dan mencabut aturan jam malam di seluruh negeri secara bertahap. 

Pada Ahad, 31 Mei mendatang, Saudi akan mengurangi larangan-larangan aturan jam malam di seluruh wilayah Kerajaan, kecuali di Makkah. Sebagaimana diberitakan kantor berita Saudi, SPA, dan Arab News, Selasa, (26/5), pergerakan di kota-kota dan wilayah Kerajaan akan diizinkan kembali.

Dengan aturan baru ini, maka jam malam di seluruh Kerajaan menjadi lebih longgar, yaitu mulai 3 sore hingga 6 pagi—sebelumnya 24 jam. Setelah Ahad, 31 Mei, jam malam dikurangi lagi, yaitu mulai  jam 8 jam hingga 6 pagi. Selama tahap ini, Makkah akan tetap menerapkan aturan jam malam 24 jam.

Kemudian pada 21 Juni, semua aturan jam malam di seluruh Kerajaan akan dicabut dan shalat di masjid Makkah akan diizinkan. Kendati demikian, protokol jaga jarak harus dipatuhi dan pertemuan lebih dari 50 orang tetap dilarang.

Otoritas juga mengizinkan para pegawai di kementerian, lembaga pemerintah, dan perusahaan swasta untuk kembali berkegiatan di kantor mereka masing-masing. Begitu juga dengan sejumlah kegiatan ekonomi dan komersil seperti pusat perbelanjaan, kafe, toko grosir, dan lainnya akan diizinkan buka kembali.
 
Namun, sektor pekerjaan yang susah menerapkan jarak sosial seperti salon, tukang cukur, bioskop, dan lainnya akan tetap ditutup. Penerbangan internasional dan umrah juga akan tetap ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut. 

"Fase-fase itu dimulai secara bertahap sampai kita kembali ke keadaan normal, dengan konsep baru berdasarkan jarak sosial," kata Menteri Kesehatan Arab Saudi, Tawfiq al-Rabiah. 

Menurutnya, langkah-langkah yang diambil Kerajaan di awal telah membantu membatasi penyebaran virus corona. Ketika virus corona mulai terdeteksi di Saudi, pihak Kerajaan mengeluarkan beberapa langkah ekstrim. Di antaranya menutup masjid-masjid di seluruh Kerajaan, termasuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, membatasi pergerakan antar provinsi, menutup lembaga pendidikan, pusat perbelanjaan, dan melarang acara-acara sosial, budaya, dan olahraga.

Merujuk data Worldometers, Selasa (26/5), Arab Saudi memiliki 76.726 kasus positif Covid-19 dengan angka kematian 411 dan angka kesembuhan 48.450.

Pewarta: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile