Lebaran Tanpa Salam-salaman di Buntet Pesantren

Lebaran Tanpa Salam-salaman di Buntet Pesantren
Maulida Fitria Ubaidi (kanan) bersama KH Ade Nasihul Umam dan keluarganya usai shalat Idul Fitri di depan Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (24/5). (NU Online/Syakir NF)
Maulida Fitria Ubaidi (kanan) bersama KH Ade Nasihul Umam dan keluarganya usai shalat Idul Fitri di depan Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (24/5). (NU Online/Syakir NF)
Cirebon, NU Online
Tidak ada antrian mengular di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren selepas shalat Idul Fitri 1441 H, Ahad (24/5), sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Setelah menyampaikan khutbah Idul Fitri, Sesepuh Pondok Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza langsung mempersilakan para jamaah untuk pulang.
 
"Mangga (silakan)," begitu kata kiai yang juga Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu sebelum turun dari mimbar.
 
Hal tersebut sudah menjadi kesepakatan rapat para kiai sepuh pada Selasa (19/5) malam, bahwa shalat Idul Fitri tetap dilaksanakan, tetapi tidak dengan tradisi salam-salaman setelahnya. Pun tidak diadakan takbir keliling usai idul fitri, sebuah tradisi sowan keliling ke para kiai sembari bertakbir untuk bersalam-salaman selepas shalat Idul Fitri.
 
Hal itu kembali diumumkan oleh KH Ade Nasihul Umam sebagai Ketua Dewan Khidmat Masjid (DKM) Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren sesaat sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan.
 
Setelah khutbah usai, pintu sembilan di bagian dalam Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren langsung ditutup, menyisakan para kiai. Para jamaah langsung membubarkan diri, mengerti dengan kondisi yang tengah dilanda pandemi saat ini. Tak ada yang berani merangsek masuk untuk menyalami para kiai.
 
Masyarakat pun memahami perihal keputusan tersebut. Karenanya, selepas shalat idul fitri, tidak begitu terlihat banyak masyarakat berlalu-lalang sowan ke para kiai. Mereka umumnya hanya mengunjungi rumah saudara atau kerabat terdekat saja, seperti orang tua dan kakak-adik masing-masing.
 
Silaturahim daring dengan panggilan video
Sementara itu, silaturahim dengan anggota keluarga yang berada di luar Buntet Pesantren dilakukan dengan panggilan video. Beberapa warga mengabadikan momen tersebut dengan menangkap layar atau merekam layar aktivitas tersebut dan mengunggahnya ke akun media sosial masing-masing.
 
Fatmah, misalnya, yang melakukan panggilan video dengan kakaknya yang berada di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan dan Tegal, Jawa Tengah, serta dua adiknya yang tinggal di Demak, Jawa Tengah dan Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka pun tidak bisa pulang karena kondisi saat ini.
 
Hal serupa dialami Akhmad Dzohron Nahdlowi. Ia mengabadikan momen panggilan videonya bersama paman dan bibinya di Buntet Pesantren. Ia dan keluarganya di Kebumen harus menerima keadaan untuk berlebaran di tempat tinggalnya di Pondok Pesantren Darussa'adah, Bulus, Kebumen, Jawa Tengah. Padahal, ia dan keluarganya sudah menjadwalkan berlebaran di Buntet Pesantren bersama keluarga dari abahnya, KH Tamam Abdullah Syifa Akyas.
 
"Rencana lebaran tahun ini di Buntet, tapi keadaan seperti ini menunda rencana itu. Semoga bisa disegerakan pulang ke Buntet," tulisnya pada status media sosialnya.
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile