Campur Aduk Perasaan Santri Lebaran di Pondok Buntet Pesantren

Campur Aduk Perasaan Santri Lebaran di Pondok Buntet Pesantren
Hamyamtho (kiri) (Foto: Istimewa)
Hamyamtho (kiri) (Foto: Istimewa)
Cirebon, NU Online
Selama lima tahun belajar dan mengaji di Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, baru tahun ini Maulida Fitria Ubaidi merasakan berlebaran Idul Fitri di pondok. Suasana hatinya pun campur aduk, sedih sekaligus bahagia. "Rasanya sedih, haru, senang," katanya.
 
Tentu saja, kesedihan itu dirasakan karena ia tak bisa berkumpul dengan keluarganya. Saban kali takbiran menggema di telinganya, ia teringat jengkol balado masakan ibunya. Syukur, keputusannya untuk berlebaran di pondok didukung penuh keluarganya.
 
"Didukung sama keluarga karena biasanya selalu disuruh pulang tiap momen lebaran tapi kali ini didukung," kata dara 19 tahun itu.
 
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren ini juga mengaku senang. Pasalnya, ia dapat melayani keluarga kiai dengan penuh selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri, satu hal yang tidak pernah dilakukannya di tahun-tahun sebelumnya.
 
"Seneeeng banget bisa bantuin keluarga ndalem selama satu bulan full, karena puasa-puasa sebelumnya enggak full di pondok," katanya.
 
Santri yang akrab disapa Pipit itu sempat ragu untuk berlebaran di pondok mengingat hal tersebut baru baginya. Ia juga sempat mengingatkan dirinya sendiri, jika pun tidak kuat, tidak perlu dipaksa. Namun, Pipit juga menguatkan dirinya sendiri sehingga ia bisa melalui tahap tersebut. "Maaf-maafannya lewat VC (video call) aja dan alhamdulillah enggak nangis," ujarnya. 
 
Pipit mengaku sering merayakan Idul Adha di pondok. Tentu Idul Fitri berbeda mengingat ia sama sekali tidak ditemani kawan-kawannya yang lebih dahulu pulang karena pandemi. Sementara saat Idul Adha, tak sedikit rekan-rekannya yang tetap tinggal di pondok.
 
Malam Idul Fitri pun tidak dihabiskan untuk rebahan. Selepas Isya, ia menemani putri kiai untuk melihat kemeriahan takbir keliling dan pesta kembang api di desa seberang.
 
Setelah itu, ia melanjutkan kegiatannya untuk masak-masak bersama Ibu Nyai dan tukang masak hingga Subuh. Tidak tidur, kegiatan dilanjutkan dengan shalat Idul Fitri di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren.
 
Setelah itu, ia sowan ke keluarga kiai dan guru-gurunya. "Setelah sholat Id, saya sendiri sowan-sowan ke keluarga ndalem sama guru-guru terdekat," katanya.
 
Karena situasi di tengah pandemi ini, ia mengaku tidak berani jika bertamu ke rumah kiai atau ibu nyai se-Buntet Pesantren. "Biasanya Idul adha selalu sowan ke kiai-kiai dari kulon, wetan, kidul, bahkan sampai ke seberang," katanya.
 
Berlebaran di rumah dan di pondok tentu berbeda. Tradisi Betawi membuatnya berkeliling ke saudara-saudaranya hingga seminggu. Sementara di sini, ia merasa tidak seramai ketika di rumah. Saat ditanya soal uang salam tempel, ia mengaku tetap mendapatkannya, bahkan dari keluarga kiainya. "Ada yang lewat transfer, ada yang dikasih sama keluarga ndalem," ujarnya bahagia.
 
Berbeda dengan Pipit yang baru kali pertama, Hamyamto mengaku sudah ketiga kalinya berlebaran Idul Fitri di Pondok Buntet Pesantren selama 13 tahun ia mengaji, belajar, dan berkhidmat. Meskipun sudah ketiga kali, perasaannya tetap sama, yakni campur aduk.
 
"Perasaan saya lebaran di pondok tentu campur aduk, senang bisa takzim melayani keluarga kiai, sedihnya jauh dari keluarga di kampung halaman," katanya.
 
Berlebaran di pondok tentu karena melihat situasi saat ini yang tengah dilanda pandemi Covid-19, walaupun lingkungan pondok bukan zona merah. "Yang penting dengar kabar keluarga sehat semua alhamdulillah," ujarnya.
 
Pria yang akrab disapa Yanto itu sudah menyiapkan masakan sejak malam takbiran bersama rekannya, Muhassin, untuk makan-makan keluarga kiai usai shalat Idul Fitri. Hal itu disambi dengan membersihkan rumah ndalem.
 
Setelah shalat Idul Fitri di Masjid Agung Buntet Pesantren, ia pun langsung menyajikan dan melayani makan-makan keluarga besar kiai. Kemudian, ia pun turut berziarah bersama keluarga besar kiai.
 
Berlebaran di pondok pun membuatnya ketiban pulung. Pakaian dari ujung kaki hingga ujung kepala pun serba baru, diberikan langsung oleh keluarga kiainya. "Alhamdulillah komplit, sandal, sarung, baju, peci," katanya penuh senyum gembira.
 
Penampilannya semakin gagah dengan jas hitam yang biasa dikenakan kiainya itu diserahkan untuknya. "Alhamdulillah dapat pemberian dari Kiai Muhaddits," ujar pria yang saat ini tengah menempuh masa akhir studi sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Cirebon itu.
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile