Semangat Kebersamaan Harus Dipulihkan Saat Lebaran di Rumah Saja

Semangat Kebersamaan Harus Dipulihkan Saat Lebaran di Rumah Saja
Ketua PCNU Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, KH Abdul Qodir Syam (tengah) dalam sebuah acara di Bondowoso. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua PCNU Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, KH Abdul Qodir Syam (tengah) dalam sebuah acara di Bondowoso. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Bondowoso, NU Online
Tidak ada open house, namun tamu tidak bisa ditolak. Itulah yang dilakukan Ketua PCNU Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, KH Abdul Qodir Syam dalam lebaran kali ini.  Menurutnya, terlepas dari ada Covid-19 atau tidak, tamu wajib dimuliakan sehingga harus diterima dengan baik. Namun tamu yang datang tidak banyak seperti yang terjadi pada lebaran sebelumnya.

“Karena jauh-jauh hari memang telah kami umumkan dalam setiap kesempatan bahwa lebaran kali ini tidak ada salam-salaman dan saling mengunjungi, cukup saling memaafkan dalam hati,” ucap Kiai Qodir di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Selasa (26/5).

Menurutnya, lebaran intinya adalah ‘menuai’ ampunan dari Allah, melebur dosa setelah sebulan berpuasa. Karena memang puncak kenikmatan manusia adalah ketika dosa terampuni. Selain dosa kepada Allah, dosa kepada sesama manusia juga ‘harus’ dihapus melalui permintaan maaf, bersalam-salaman dan sebagainya.

“Namun dalam kondisi lebaran seperti ini, bersalam-salaman tidak harus. Cukup diyakini saja bahwa dosa kita telah bebas. Kita telah memaafkan mereka,  dan mereka telah memberi maaf kepada kita. Itu sudah cukup. Ibro’ (pembebasan) tidak harus dikasih tahu kepada orangnya,” jelasnya.

Namun persoalannya adalah terkikisnya semangat kebersamaan dalam peristiwa lebaran. Saling mengunjungi, saling memaaafkan, bahkan dengan membawa kue segala, itu sudah membudaya dalam kehidupan umat Islam saat merayakan Idul Fitri. Anehnya, budaya itu telah tergerus dalam lebaran kali ini.

“Yang kami khawatirkan adalah semangat kebersamaan itu akan memudar dalam kehidupan masyarakat. Bisa jadi lebaran kali ini bisa menjadi titik start-nya. Inilah PR kita semua ke depan, yaitu memulihkan semangat kebersamaan itu,” urainya.

Kiai Qodir menambahkan, semangat kebersamaan perlu terus digelorakan di masa-masa mendatang. Sebab kebersamaan berdasarkan agama itulah yang menjadi pilar utuhnya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karena itu, semangat kebersamaan nanti perlu segera dipulihkan di tengah-tengah masyarakat sebelum benar-benar layu.

“Ini harus menjadi perhatain kita semua. Jangan sampai semangat kebersamaan kita, keguyuban kita yang sudah mendarah daging dalam Lebaran, luntur, atau bahkan lenyap. Itu bahaya,” urainya.

Di tempat terpisah, mantan Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor, Kabupaten Bondowoso, Muzammil menyatakan setuju terhadap imbauan pemerintah untuk di rumah saja, termasuk dalam berlebaran kali ini. Namun imbauan tersebut perlu terus digemakan lebih masif, agar kesadaran masyarakat untuk taat aturan semakin meningkat.

“Saya pribadi mengikuti anjuran pemerintah karena itu lebih aman. Tapi edukasi kepada masyarakat perlu ditingkatkan,” harap Wakil Bendahara PW Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur itu.

Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
BNI Mobile