Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

‘Tabib’ Abu Nawas

‘Tabib’ Abu Nawas
Ilustrasi. (Foto: via Madina365)
Ilustrasi. (Foto: via Madina365)
Masyarakat mendapati putra mahkota dari Raja Harun Ar-Rasyid sedang jatuh sakit. Tidak sedikit tabib yang didatangkan ke istana untuk mengobati sang pangeran tetapi tidak satu pun yang berhasil menyembuhkannya.

Akhirnya pihak istana mengadakan sayembara bagi masyarakat. Sesiapa yang bisa menyembuhkan pangeran akan mendapat hadiah dari Raja. Meskipun bukan termasuk tabib, Abu Nawas mengajukan diri dan yakin bisa menyembuhkan pangeran.

"Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri," pinta Abu Nawas. Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan oleh Raja.

"Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan," perintah Abu Nawas kepada orang tua itu.
 
Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran.

Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setelah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. Raja merasa heran.

“Kamu didatangkan ke sini bukan untuk berlibur,” kata sang Raja.

"Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini," kata Abu Nawas menjelaskan.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Raja.

"Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini. Dan sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepada Baginda."

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Raja.

"Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu," jelas Abu Nawas.

"Kalau tidak?" ucap Raja ragu-ragu.

"Cinta itu buta. Kalau tidak diobati kebutaannya, pangeran akan mati," jawab Abu Nawas yang sarannya seketika diterima Baginda Raja. (Ahmad)
BNI Mobile