HPN: Pengusaha Harus Bertahan dan Bermutasi di Tengah Pandemi

HPN: Pengusaha Harus Bertahan dan Bermutasi di Tengah Pandemi
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik. (Foto: NU Online/Fathoni)
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik. (Foto: NU Online/Fathoni)
Jakarta, NU Online
Situasi pandemi membuat pengusaha harus memiliki upaya lebih dalam bertahan. Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik menyarankan agar pengusaha belajar bermutasi, belajar bertahan, belajar keluar dari zona nyaman.

"Selama ini kita berbisnis dengan konsep take it for granted, namun dengan adanya pandemi hal itu tidak bisa dilakukan lagi, kita harus bertahan dan bermutasi," katanya saat halal bi halal HPN secara daring pada Rabu (27/5).

Tahun 1998 menjadi pelajaran penting. Pun saat ini juga pengusaha harus belajar lagi dan bangkit lagi usai pandemik.

Hal senada disampaikan Ketua Dewan Pakar HPN Rokhmin Dahuri. Menurutnya, HPN adalah institusi yang sangat strategis, bukan hanya bagi NU namun juga bagi negara. Pasalnya, saat ini jumlah pengusaha besar nasional hanya sekitar 3 persen. Sisanya adalah pengusaha kecil yang disebut dengan UMKM.

"Bila kita mengacu kepada fastabiqul khoirot, seperti NU sekarang sudah ada RS, ada pendidikan maka harus dikelola dengan sangat bagus, maka HPN juga harus mengelola UMKM atau pengusaha kecil ini menjadi kekuatan yang besar," jelasnya.

Oleh karena itu, Rokhmin menyarankan agar pengusaha di HPN harus saling menjalin jejaring agar semakin maju. Untuk itu, konsep koperasi, menurutnya, harus dikelola dengan tata kelola yang baik.

"Maka yang harus dilakukan adalah sistem koperasi seperti jaman dulu, harus diberdayakan kembali. Buktinya zaman orde baru, bank yang ngurusi petani dan nelayan tidak ada, karena sebenarnya harus ada bank macam ini," ujarnya.

Tak ayal, pemerintah juga mengajak masyarakat untuk saling menguatkan pengusaha kecil dalam situasi pandemik ini.

Terkait dengan Covid-19, Rokhmin menyarankan tidak perlu takut, tidak boleh sedih, dan tetap tawakal dan selalu tetap bertahan.
 
"Insyallah Agustus nanti badai sudah berlalu. Tetap optimis dalam situasi apapun, setiap ada kejadian selalu ada kesempatan yang bisa dilakukan," kata Guru Besar Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Ratusan ribu pengusaha UKM terpuruk akibat pandemi ini. Karenanya, ia mengusulkan kepada pemerintah bagaimana kredit macet di bank oleh pengusaha kecil ini, berapa persen yang bisa distop atau dinormalkan kembali atau dibenahi.

"Kita tidak perlu meminta-minta kepada pemerintah. Namun kita tetap usaha dan berikhtiar kepada Allah agar pandemi ini segera berlalu," tegasnya.

Halal Bihalal ditutup dengan tausiah oleh KH Agus Ali Mashuri, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Menurutnya, pengusaha harus selalu optimis dan berpikir positif. Menyitir surat Al-Insyirah ayat 5, sesungguhnya bersamaan dengan kesusahan dan kesempitan itu terdapat kemudahan dan kelapangan.

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu mencontohkan Thomas Alfa Edison mengalami 9.000 kegagalan saat menciptakan lampu sebelum akhirnya berhasil.

"Pengusaha harus bermental petarung karena dunia ini milik orang pemberani, berani artinya ada kalkulasi dan hitungan. Rejeki Allah memang ada dimana mana, namun 90 persen rezeki Allah ada di perdagangan," ujarnya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile